Apakah dalam Qiyam Ramadhan (shalat tarawih) ada jumlah rakaat tertentu?


Pertanyaan:
Apakah dalam Qiyam Ramadhan (shalat tarawih) ada jumlah rakaat tertentu?

Syaikh 'Utsaimin menjawab:
Tidak ada jumlah rakaat tertentu yang diwajibkan.
Jika seseorang melakukan shalat malam semalam suntuk, hal itu tidaklah mengapa.
Jika dia melakukan 20 atau 50 rakaat, hal itu juga tidaklah mengapa.
Akan tetapi jumlah yang lebih utama adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasalam yaitu 11 rakaat atau 13 rakaat.

Ummul Mukminin Aisyah radiallahu'anha ditanya, "Bagaimana Nabi shalallahu alaihi wasalam melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan (tarawih)?"
Dia menjawab: "Rasulullah shalat malam, baik pada bulan Ramadhan maupun selainnya, tidak lebih dari 11 rakaat."

Akan tetapi wajib dilakukan sesuai dengan tuntunan syari'at, dengan memanjangkan bacaan, rukuk, sujud, bangkit dari rukuk dan duduk antara dua sujud.
Tidak seperti yang dilakukan orang-orang sekarang. Mereka melakukannya dengan cepat, menyulitkan makmum untuk melakukan apa yang selayaknya mereka lakukan.
Imam adalah pemimpin, dan pemimpin wajib melakukan apa yang paling baik dan bermanfaat.
Jika imam hanya peduli dengan cepat-selesainya shalat tarawih, ini merupakan suatu kesalahan.
Semestinya dia melakukan apa yang dilakukan Nabi shalallahu alaihi wasalam : dengan memanjangkan berdiri, rukuk, sujud dan duduk sesuai yang diriwayatkan, memperbanyak doa, bacaan al-Quran, tasbih dan semacamnya.

Marji' :
📚 48 Su-aalan fish Shiyaam no. 2 , karya Syaikh 'Utsaimiin rahimahullaah

Ringkasan Fawaid Hadis Haramnya Kedhaliman - Arbain Nawawi XXIV

Dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang diriwayatkan dari Rabb-nya bahwa Dia berfirman, “Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi. Hai hamba-hamba-Ku! Setiap kalian adalah orang yang sesat kecuali siapa yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku beri kalian petunjuk. Hai hamba-hamba-Ku! Setiap kalian adalah lapar kecuali siapa yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, pasti Aku beri kalian makan. Hai hamba-hamba-Ku! Setiap kalian adalah telajang kecuali siapa yang Aku beri pakaian, maka mintalah kepada-Ku pakaian, pasti Aku akan beri kalian pakaian. Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian melakukan dosa di malam dan siang hari sementara Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni kalian. Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan sampai kepada bahaya-Ku lalu kalian membahayakan-Ku, dan tidak akan sampai kepada manfaat-Ku lalu kalian memberi-Ku manfaat. Hai hamba-hamba-Ku! Seandainya yang paling awal dan terakhir dari kalian baik jin dan manusia semuanya berada pada hati yang paling bertakwa salah seorang dari kalian, tentu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku! Seandainya yang paling awal dan terakhir dari kalian baik jin dan manusia semuanya berada pada hati yang paling durhaka salah seorang dari kalian, tentu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku! Seandainya yang paling awal dan terakhir dari kalian baik jin dan manusia semuanya berada di atas satu bukit, lalu semuanya meminta kepada-Ku, lalu Aku beri semua permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun apa yag ada di sisi-Ku, secuali sekedar seperti berkurangnya samudra jika jarum dimasukkan. Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku tulis untuk kalian kemudian Aku sempurnakan itu untuk kalian. Barangsiapa yang mendapati kebaikan hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain itu janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Teks Hadis
عَنْ أَبي ذرٍّ الغِفَارْي رضي الله عنه عَن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فيمَا يَرْويه عَنْ رَبِّهِ عزَّ وجل أَنَّهُ قَالَ: «يَا عِبَادِيْ! إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمَاً فَلا تَظَالَمُوْا. يَا عِبَادِيْ! كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِيْ! كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فاَسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِيْ! كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِيْ أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِيْ! إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعَاً فَاسْتَغْفِرُوْنِيْ أَغْفِرْ لَكُمْ. يَا عِبَادِيْ! إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضَرِّيْ فَتَضُرُّوْنِيْ وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ. يَا عِبَادِيْ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فَيْ مُلْكِيْ شَيْئَاً. يَا عِبَادِيْ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِيْ شَيْئَاً. يَا عِبَادِيْ! لَوْ أنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوْا فِيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِيْ فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ المِخْيَطُ إَذَا أُدْخِلَ البَحْرَ. يَا عِبَادِيْ! إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرَاً فَليَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ» رواه مسلم.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Dhalim yaitu penempatan sesuatu bukan pada tempatnya, Ibnu Taimiyah. (SU)
  2. Haramnya kedhaliman dari dua sisi :  (SU)
    1. Allah telah mengharamkannya atas Dirinya sendiri
    2. Allah telah menjadikannya haram antar manusia
  3. Kedhaliman ada dua tingkatan (SAS)
    1. Kedhaliman terhadap dirinya sendiri, ada dua : kesyirikan, dan mencampakkannya ke adzab;
    2. Kedhaliman terhadap hamba-hamba Nya, yaitu dengan melalaikan hak-hak mereka.
  4. Besarnya kebutuhan hamba kepada Allah. (SAM)
  5. Kesempurnaan kekuasaan dan kekayaan Allah; dan tidakbutuhnya Dia dari hamba-Nya. (SAM) 
  6. Kalimat terakhir mencakup dua makna : perintah, dan khabar. (SU)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Penetapan sifat adil, sebagai lawan darinya. (SAS)
  2. Menggabungkan hadis ini dengan hadis fithrah. (IRH)
  3. Hidayah ada dua, hidayah irsyaad wat taufiiq, dan hidayah terhadap rincian iman dan islam. (SAS)
  4. 'secuali sekedar seperti berkurangnya samudra jika jarum dimasukkan', yaitu tidak berkurang sedikitpun. (SAM)
  5. Makna ihshaa, yaitu mencakup pengetahuan dan penulisan terhadap rincian; dan penjagaannya. (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Istiqamah - Arbain Nawawi XXI

Dari Abu ‘Amr –ada yang berpendapat Abu Amrah– Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu berkata: aku berkata, “Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah ucapan yang tidak aku tanyakan lagi kepada selain Anda”’ Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah!’ kemudian istiqamahlah.’” Diriwayatkan oleh Muslim.

Teks Hadis
عَنِ أَبيْ عَمْرٍو -وَقِيْلَ أَبيْ عمْرَةَ- سُفْيَانَ بنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ» رواه مسلم

Ringkasan Fawaid Utama
  1. 'Aku beriman kepada Allah', yaitu 'Rabb-ku ialah Allah', sebagaimana dalam ayat. Dan ini memcakup agama seluruhnya. (SAS)
  2. Istiqamah yaitu tuntutan atas pendirian diri, di atas jalan yang lurus, yaitu islam. Mustaqiim, yaitu orang yang berdiri di atas syariat-syariat islam, berpegang teguh dengannya, baik secara lahir, maupun batin. (SU)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Dua makna istiqomah, yaitu tholab (tuntutan), dan luzuum wal katsroh. (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Malu - Arbain Nawawi XX

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu.’” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Teks Hadis
عَنْ أَبيْ مَسْعُوْدٍ عُقبَة بنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِيِّ البَدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِمَّا أَدرَكَ النَاسُ مِن كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذا لَم تَستَحْيِ فاصْنَعْ مَا شِئتَ» رواه البخاري.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. ‘Bila kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu.’ mempunyai dua makna (SU) :
    1. Perintah, sesuai dhohirnya; yaitu jika yang akan dilakukan itu tidak memalukan, baik di sisi Allah, maupun di sisi manusia; maka silahkan melakukannya.
    2. Bukan perintah, memiliki dua kemungkinan :
      1. Perintah bermakna ancaman,
      2. Perintah bermakna khabar
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Seluruh ajaran islam berporos di atas hadis ini. (IN)
  2. Keutamaan malu, dan sifat malu ada dua macam : sifat bawaan, sifat yang diusahakan. (SAS)
  3. Nubuwwatil uulaa, seperti Nuh, Ibrahim; bukan Musa, dan Nabi-nabi bani Israil lainnya. (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Jagalah Allah! - Arbain Nawawi IXX

Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: aku pernah di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu beliau bersabda, “Hai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarimu satu kalimat, ‘Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka kamu akan mendapatinya di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah! Seandainya umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah Allah tulis untukmu, dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa menimpakan bahaya kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditulis atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan berkata, “Hadits hasan shahih.”

Dalam riwayat selain at-Tirmidzi, “Jagalah Allah, maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah saat lapang, maka Dia akan mengenalmu saat susah. Ketahuilah! Apa yang meleset bagimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan meleset. Ketahuilah! Sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, sesungguhnya kelapangan itu bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan.

Teks Hadis
عَنْ أَبِي العَبَّاسٍ عَبْدِ اللهِ بنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَومَاً فَقَالَ: «يَا غُلاَمُ إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحفَظك، احْفَظِ اللهَ تَجِدهُ تُجَاهَكَ، إِذَاَ سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَاَ اسْتَعَنتَ فَاسْتَعِن بِاللهِ، وَاعْلَم أَنَّ الأُمّة لو اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك، وإِن اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ» رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح 
وفي رواية غير الترمذي: «اِحفظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إلى اللهِ في الرَّخاءِ يَعرِفْكَ في الشّدةِ، وَاعْلَم أن مَا أَخطأكَ لَمْ يَكُن لِيُصيبكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُن لِيُخطِئكَ، وَاعْلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَربِ، وَأَنَّ مَعَ العُسرِ يُسراً»

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Maksud dari menjaga Allah, yaitu menjaga perkara-Nya; yang mencakup (SU) :
    1. Perkara qodariy, yaitu dengan sabar
    2. Perkara syar'iy, yaitu dengan membenarkan kabar, dan mengikuti khithaab.
  2. Penjagaan Allah mencakup dua perkara : penjagaan-Nya, dan pemeliharaan-Nya (pertolongan dan pengokohan). (SU)
  3. Ma'rifat hamba kepada Allah ada dua : pengakuan atas rububiyah-Nya, dan pengakuan atas uluhiyah-Nya. (SU)
  4. Ma'rifatullaah kepada hamba ada dua : umum (ilmu-Nya), dan khusus (pertolongan dan pengokohan)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Jalur periwayatan hadis ini (riwayat tirmidzi), hasan. (IRH)
  2. Hadis tentang larangan berangan-angan untuk bertemu musuh, muttafaq 'alaih. (IN)
  3. Tingkatan paling rendah dari menjaga Allah, ialah mentauhidkan-Nya, kemudian melaksanakan perintah wajib, dan menjauhi larangan yang haram (SAS)
  4. Penjagaan Allah memiliki dua tingkatan : penjagaan dunia, dan penjagaan agama. (SAS)
  5. Musibah dan bencana yang menimpa hamba, ialah karena mereka melalaikan penjagaan kepada Allah. (SAS, IN)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Bertakwa kepada Allah - Arbain Nawawi XVIII

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan maka ia akan menghapusnya, dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan berkata, “Hadits hasan,” dalam redaksi lain, “Hasan shahih.”

Teks Hadis
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بِنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» رواه الترمذي وقال: حديث حسن، وفي بعض النسخ: حسنٌ صحيح.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Hadis ini mengandung dua wasiat Nabi (SU)
    1. Hak Allah, yaitu takwa dan mengikuti kejelekan dengan kebaikan
    2. Hak hamba, yaitu bermuamalah kepada makhluk dengan akhlak yang baik
  2. Takwa yaitu pengambilan pelindung oleh seorang hamba, antara dia dengan yang dia takuti, dengan memenuhi tuntunan syariat. (SU)
  3. Mengikuti kejelekan dengan kebaikan memiliki dua tingkatan. (SAS, SU)
  4. Akhlak yang baik, yaitu badzlun nadaa wa kafful adza (SAS)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Makna al-khuluq, dalam syariat ada dua : umum (agama) dan khusus (muamalah dengan manusia). (SU)
  2. Takwa merupakan wasiat yang paling agung. (SAS)
  3. Pengertian takwa menurut Thalq bin Habiib (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Pembagian Ilmu Agama Islam

Ilmu agama islam (syar'iyyah) semuanya terpuji. Ilmu syar'iyyah terbagi menjadi empat :

  1. Ushul, seperti al Quran, Sunnah, ijma', dan atsar shahabat
    1. Furu', yaitu apa-apa yang difahami dari ushul tersebut, berupa makna-makna yang akal manusia perhatian terhadapnya, sehingga difahami dari lafadz yang diucapkan, makna selainnya.
      Seperti makna yang difahami dari sabda Rasulullah,
      لا يقضي القاضي وهو غضبان
      (tidaklah boleh seorang hakim memutuskan perkara, dalam keadaan dia sedang marah)
      bahwasanya hakim tidak boleh memutuskan perkara, dalam keadaan dia sedang lapar
    2. Muqoddimaat, yaitu ilmu yang dipergunakan sebagai alat, seperti ilmu nahwu dan bahasa arab; karena keduanya merupakan ilmu alat untuk memahami al Quran dan Sunnah
    3. Mutammimaat, seperti ilmu qira-aat, makhoorijul huruuf; ilmu tentang nama-nama perawi hadis, dan tingkat kredibilas mereka.
    Semua ilmu tersebut adalah ilmu syar'iyyah, dan kesemuanya merupakan perkara yang terpuji. (Mukhtashor Minhaajul Qoshidiin, 26)

    Marji' : Fadhlul 'Ilm, Syaikh Sa'id Ruslan.