Bagaimana Cara Mengambil Manfaat dari al-Quran?


Sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan al-Quran kepada manusia bukan hanya sekedar untuk dibaca, tapi juga agar mereka memahami, mentadabburi, dan mengamalkannya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29) Sungguh hal tersebut merupakan manfaat yang sangat besar.
Dalam fawaid kali ini, kami bawakan bahasan ringkas  tentang bagaimana cara mengambil manfaat dari al-Quran. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dengan apa-apa yang ada di dalam al-Quran.

SANGAT SINGKAT TAPI PADAT

Syaikh Jamil Zainu rahimahullah mengatakan:
Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37)
Kalau engkau hendak mengambil manfaat dari al-Quran, maka konsentrasikanlah hatimu tatkala membacanya, arahkan pendengaranmu seolah-olah engkau mendengarnya langsung dari Siapa yang mengucapkannya, karena al-Quran adalah pembicaraan Allah kepadamu melalui lisan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Mesti demikian, sebab kesempurnaan refleksi bergantung kepada subjek pemberi pengaruh, objek, terpenujinya syarat dan tidak adanya penghalang.
Hal ini dijelaskan oleh hanya satu ayat dalam lafadznya yang sangat singkat tapi padat. [Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37)]

[SUBJEK]

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan,
mengisyaratkan kepada ayat-ayat sebelumnya (mulai dari awal sura Qaf hinga ayat di atas). Inilah subjek.

[OBJEK]

Bagi orang-orang yang mempunyai hati,
inilah objek, yaitu hati yang hidup dan memahami wahyu Allah Ta'ala. Hal tersebut sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” (QS. Yasin: 69-70)

[SYARAT DAN PENGHALANG]

Atau yang menggunakan pendengarannya,
artinya mengarahkan pendengaran kepada ucapan yang dihadapkan kepadanya. Inilah syarat.
Sedang dia menyaksikannya,
artinya hatinya hadir berkonsentrasi.
Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Dengarlah baik-baik Kitabullah sedangkan hatimu dalam keadaan konsentrasi dan faham, bukan lalai dan lupa.”
Ini mengisyaratkan kepada penghalang, yaitu lalainya kalbu akan apa yang dikatakan kepadanya, tidak memperhatikan dan memikirkannya.

[KESIMPULAN]

Tatkala telah ada subjek pemberi pengaruh (al-Quran), objek (kalbu yang hidup), syarat (mengarahkan pendengaran dan perhatian) dan hilangnya penghalang (kelalaian hati dari kalimat yang ditujukan kepadanya); maka tercapailah pengambilan manfaat dari al-Quran.

Marji' : Kaifa Nafhamul Quran karya Syaikh Jamil Zainu (terjemahan: Bagaimana Kita Memahami al-Quran, penerbit: Cahaya Tauhid Press)

Posting Komentar