Iman Terhadap Kitab-kitab Suci

Iman terhadap kitab suci merupakan salah satu landasan agama kita. AllahTa`ala berfirman yang artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman dengan Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi….” (QS. Al-Baqarah: 177) Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau menjawab:“(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “Kitab (biasa disebut dengan Kitab suci) adalah kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya sebagai rahmat untuk para makhluk-Nya, dan petunjuk bagi mereka, supaya mereka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.” (lihat kitab Rasaail fil `Aqiidah karya Syaikh Utsaimin)
Cakupan Iman dengan Kitab Suci
Masih dalam kitab yang sama, beliau juga mengatakan: “Iman dengan kitab suci mencakup 4 perkara:
1.Iman bahwasanya kitab-kitab tersebut turun dari Allah Ta`ala.
2.Iman dengan nama-nama yang kita ketahui dari kitab-kitab tersebut, seperti al-Qur`an yang Allah turunkan kepada Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa, dan lain sebagainya.
3.Pembenaran terhadap berita-berita yang shahih, seperti berita-berita yang ada dalam al-Qur`an dan kitab-kitab suci sebelumnya selama kitab-kitab tersebut belum diganti atau diselewengkan.
4.Pengamalan terhadap apa -apa yang belum di-nasakh dari kitab-kitab tersebut, rida terhadapnya, dan berserah diri dengannya, baik yang diketahui hikmahnya, maupun yang tidak diketahui.” (Rasaail fil `Aqiidah)
Sumber dan Tujuan Penurunan Kitab Suci
Seluruh kitab-kitab suci sumbernya adalah satu, yaitu dari Allah Jalla wa `Alaa. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.  Dia menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan dia menurunkan al-Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali Imran: 2-4)
Tujuan penurunan kitab-kitab suci juga satu, yaitu tercapainya peribadatan hanya kepada Allah semata, sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta`ala dalam surat al-Maidah ayat 44 – 50. (Untuk pembahasan lebih rinci, lihat kitab ar-Rusul war Risaalaat karya `Umar bin Sulaiman al-Asyqar, hal 231 – 235)
Kedudukan al-Qur`an di antara Kitab-kitab Suci Lainnya
Al-Qur`an merupakan kitab suci terakhir dan penutup dari kitab-kitab suci sebelumnya. Selain itu, al-Qur`an juga merupakan hakim atas kitab-kitab suci sebelumnya. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…. ” (QS. Al-Maidah: 48)
Al-Qur`an merupakan kitab suci paling panjang dan paling luas cakupannya. Rasulullah shallallahu `alahi wa sallam bersabda: “Saya diberi ganti dari Taurat dengan as-sab`ut thiwaal (tujuh surat dalam al-Qur`an yang panjang-panjang). Saya diberi ganti dari Zabur dengan al-mi`iin (surat yang jumlah ayatnya lebih dari seratus). Saya diberi ganti dari Injil dengan al-matsani (surat yang terulang-ulang pembacaannya dalam setiap rekaat shalat) dan saya diberi tambahan dengan al-mufashshal (surat yang dimulai dari Qaf sampai surat an-Naas).” (HR. Thabarani dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh al-Albani)
Di antara perkara lain yang menjadi kekhususan al-Qur`an dari kitab-kitab suci lainnya adalah penjagaan Allah terhadapnya. Allah Ta`alaberfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Sekilas Tentang Taurat
Taurat adalah kitab yang Allah turunkan kepada Musa `alahis salam. Taurat merupakan kitab yang mulia yang tercakup didalamnya cahaya dan petunjuk. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)….” (QS. Al-Maidah: 44)
Taurat yang ada saat ini – biasa disebut dengan kitab perjanjian lama – , setiap orang yang berakal tentu mengetahui bahwa taurat tersebut bukanlah taurat yang dahulu diturunkan kepada Musa `alaihis salam. Hal itu bisa diketahui dari beberapa bukti berikut:.
  • Ketidakmampuan mereka (baik Yahudi maupun Nashrani) dalam menunjukkan sanad ilmiah yang sampai kepada Musa `alaihis salam, bahkan mereka mengakui bahwa Taurat pernah hilang selama beberapa kali.
  • Terjadi banyak kontradiksi di dalamnya, yang menunjukkan bahwa sudah banyak terjadi campur tangan para ulama yahudi dalam merubah isi Taurat.
  • Banyak terdapat kesalahan ilmiah.
  • Dan masih banyak bukti lainnya.
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 79)
Sekilas Tentang Injil
Sedangkan Injil, dia adalah kitab yang Allah turunkan kepada Isa `alaihis salam sebagai penyempurna dan penguat bagi Taurat, mencocoki dangannya dalam sebagian besar syariatnya, petunjuk kepada jalan yang lurus, membedakan kebenaran dan kebatilan, dan menyeru kepada peribadatan kepada Allah Ta`ala semata.
Sebagaimana taurat yang ada sekarang bukanlah taurat yang dahulu diturunkan kepada Musa, demikian juga injil yang ada sekarang, juga bukan injil yang diturunkan kepada Isa `alaihimas salam. Di antara bukti dari penyataan tersebut:
  • Penulisan injil terjadi jauh beberapa tahun setelah diangkatnya Isa`alaihis salam.
  • Terputusnya sanad dalam penisbatan penulisan injil-injil tersebut kepada penulisnya.
  • Banyak terdapat kontradiksi dan kesalahan ilmiah di dalamnya
  • Dan masih banyak bukti lainnya.
(untuk mendapatkan pembahasan lebih rinci tentang keberadaan Taurat dan Injil yang ada sekarang, silahkan merujuk ke kitab Izhaarul Haq karya Rahmatullah al-Hindy)
Bolehkah mengikuti Taurat dan Injil setelah Turunnya al-Qur`an?
Jawabnya: Tidak boleh. Bahkan, kalau seandainya kitab-kitab tersebut (Taurat atau Injil yang ada sekarang) adalah benar berasal dari para Nabi  mereka, maka kita tetap tidak boleh mengikutinya karena kitab-kitab tersebut diturunkan khusus kepada umat nabi tersebut dan dalam tempo yang terbatas, dan kitab-kitab tersebut sudah di-nasakh oleh al-Qur`an. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang lain itu;…. ” (QS. Al-Maidah: 48)
Bahkan wajib bagi Yahudi dan Nashrani saat ini untuk mengikuti al-Qur`an. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidaklah seorang pun dari Yahudi dan Nasrani yang mendengar akan diutusnya aku, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Bukahri dan Muslim)
Demikianlah sedikit bahasan tentang Iman dengan kitab suci. “Wahai Rabb kami, tambahkan kepada kami keimanan, keyakinan, kefakihan, dan ilmu.
Rujukan utama:
Al-Iman bil Kutub, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.
Penulis : Abu Ka’ab Prasetyo
Sumber : http://muslim.or.id/aqidah/iman-terhadap-kitab-kitab-suci.html

Al-Quran - Makna dan Keistimewaan-keistimewaannya

Sungguh, al-Quran memiliki banyak sekali keistimewaan. Perkara tersebut tentu tidak samar lagi bagi siapa saja yang membaca al-Quran, as-Sunnah, dan kitab-kitab para ulama kaum muslimin, karena di dalamnya banyak menyebutkan keistimewaan-keistimewaan tersebut. Bahkan, mantan perdana mentri salah satu negara di Eropa yang tahu sedikit tentang keistimewaan al-Quran mengatakan, “Selama al-Quran ini masih ada, Eropa tidak akan sanggup menguasai Timur yang Islam.”
Namun sangat disayangkan, sebagian orang yang menisbahkan dirinya kepada Islam berusaha mengaburkan perkara ini. Sebagian dari mereka menyamakan al-Quran dengan kitab-kitab suci agama lain yang ada saat ini. Bahkan, sebagian yang lain menyamakannya dengan kitab-kitab buatan manusia. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan mereka.
Pada bahasan utama kali ini, kami sampaikan sedikit bahasan tentang makna al-Quran dan  sebagian keistimewaan-keistimewaannya. Semoga hal ini dapat menambah ilmu kita dan menjadikan kita lebih bersungguh-sungguh dalam membaca, mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan apa-apa yang ada di dalamnya.

Makna Al-Quran

Secara istilah, al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana seseorang beribadah dengan membacanya. Berikut ini penjelasan singkat terhadap makna tersebut:

  • “Firman Allah,” (kalam Allah) tidak mencakup perkataan manusia, jin, malaikat, atau makhluk selain mereka. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah (al-Quran), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At-Taubah: 6)
  • “yang diturunkan,” tidak mencakup firman Allah yang Dia sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Nya, atau firman Allah kepada malaikat untuk mereka laksanakan (tidak untuk mereka turunkan kepada salah seorang manusia). Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109)
  • “kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,” tidak mencakup firman Allah yang diturunkan kepada selain beliau, seperti Taurat yang diturunkan kepada Musa 'alaihis salam, Injil yang diturunkan kepada Isa 'alaihis salam, dan selainnya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (QS. Al-Insan: 23)
  • “dimana seseorang beribadah dengan membacanya,” tidak mencakup hadits qudsi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf saja dari al-Quran, maka dengannya dia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat-gandakan menjadi sepuluh....” (HR. Tirmidzi, shahih)

(lihat Dirasat fi 'Ulumil Quran hal. 23)

Sebagian Keistimewaan Al-Quran

Dari makna al-Quran di atas, tampak bagi kita sebagian keistimewaan-keistimewaan al-Quran, diantaranya:

  • Al-Quran merupakan kalam Allah Ta'ala.
  • Membacanya , baik di dalam shalat maupun di luar shalat, ternilai sebagai ibadah.
  • Al-Quran diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana beliau merupakan rasul paling mulia dan terakhir yang tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau.
  • Al-Quran merupakan mukjizat. 
Mukjizat merupakan salah satu dari beberapa hal yang menunjukkan atas benarnya kerasulan Muhammad shallallahu 'alihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menantang bangas Arab – bersamaan dengan kebencian mereka terhadap beliau shallallahu 'alihi wa sallam dan kefasihan mereka dalam berbahasa – untuk membuat satu surat saja yang semisal dengan dengan al-Quran. Namun, mereka tidak mampu dan tidak akan mampu; lebih-lebih lagi selain mereka dari selain bangsa Arab. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (QS. Yunus: 38)

  • Al-Quran dijamin terlepas dari perubahan dan penggantian. 
Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Keistimewaan ini tidak dimiliki oleh kitab-kitab samawi lainnya, seperti Injil dan Taurat, karena keduanya telah dirubah oleh Yahudi dan Nashara.

  • Al-Quran dijamin terlepas dari saling kontradiksi. 
Hal tersebut berdasarkan firman Allah yang artinya, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa:82) Ibnu
Katsir rahimahullah mengatakan, “Andaikan al-Quran itu buatan manusia –  seperti yang dikataka oleh orang-orang jahil yang musyrik dan munafik hati mereka –, tentulah mereka akan mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. Sedangkan al-Quran terlepas dari perselisihan, sehingga menunjukkan bahwa ia berasal dari sisi Allah Ta'ala....”
Dan sejarah telah membuktikan bahwa siapa saja yang berusaha merubah al-Quran, pasti Allah Ta'ala membongkar kedoknya.

  • Di dalam al-Quran ada semua yang dibutuhkan manusia berupa akidah, ibadah, hukum, muamalah, akhlak, politik, ekonomi, dan lain sebagainya dari hal-hal yang pasti dibutuhkan oleh masyarakat. 
Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab.” (QS. Al-An'am: 38) Imam Thabari rahimahullah berkata menafsirkan firman Allah yang artinya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89), beliau rahimahullah mengatakan: “Diturunkan kepadamu, wahai Muhammad, al-Quran ini sebagai penjelas bagi semua yang dibutuhkan oleh manusia, untuk mengetahui halal, haram, pahala dan siksa....”

  • Al-Quran merupakan obat penyembuh hati dari penyakit syirik, nifak, dan selainnya; dan juga ada ayat-ayat dan surat-surat untuk kesembuhan jasmani, seperti surat al-Fatihah, surat al-Falaq, surat an-Naas, dan selainnya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih. 
Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)
Allah juga berfirman yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Dan masih banyak keistimewaan-keistimewaan lainnya. (lihat Kaifa Nafhamul Quran -terj Bagaimana Kita Memahai al-Quran)

Demikianlah sedikti pembahasan tentang makna al-Quran dan sebagian keistimewaan-keistimewaannya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita untuk senantiasa berpegang teguh dengan Kitab-Nya yang mulia.

Maraji' utama:
- Dirasat fi 'Ulumil Quran, karya Syaikh Fahd bin 'Abdirrahman ar-Rumiy,
- Kaifa Nafhamul Quran, karya Syaikh Jamil Zainu (terj: Bagaimana Kita Memahai al-Quran, penerbit: Cahaya Tauhid Press)

Abu Hurairah - Penghafal hadits lagi Orang yang Berbakti kepada Orang Tua

Beliau adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausy radhiyallahu ‘anhu. Beliau masuk islam pada tahun ke-7 Hijriyah.

Paling Banyak Hafalannya

Setelah masuk islam, beliau terus memusatkan perhatiannya untuk menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu saat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam suatu majelisnya, “Barangsiapa yang membantangkan kainnya, maka dia tidak akan lupa terhadap apa-apa yang telah dia dengar dariku. ” Maka Abu Huraira membentangkan kainnya sampai beliau shallallahu ‘alaih wa sallam menyelesaikan haditsnya, lalu dia meraih kainnya tersebut. (HR. Muslim)
Oleh karena itu, tidak mengherankan bila beliau radhiyallahu ‘anhu merupakan shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits darinya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Imam Syafi’I mengatakan tentang beliau radhiyallahu anhu : “la merupakan seorang yang paling banyak hafalannya di antara seluruh perawi hadits sesamanya.”
Imam Bukhari mengatakan, “Ada delapan ratus orang atau lebih dari shahabat, tabi’in, dan ahli ilmu yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah.”
Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan hafalan Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Maka dia dipanggil, dan dibawa duduk bersamanya. Kemudian, dia diminta untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasusullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu, dia menyuruh penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari balik dinding. Setelah berlalu satu tahun, Abu Hurairah dipanggil kembali dan diminta untuk menyampaikan kembali hadits-hadits yang dulu ia sampaikan di tempat tersebut. Ternyata, tidak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, walau satu patah kata pun.

Berbakti kepada Orang Tua

Semenjak ia menganut Islam, tidak ada yang memberatkan dan menekan perasaannya dari berbagai persoalan hidupnya, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah mengenai ibunya yang waktu itu menolak untuk masuk Islam, bahkan ia sesekali mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di depannya… Namun demikian, hal itu tidak membuat dia patah semangat untuk senantiasa berbakti kepadanya, khususnya dengan berusaha memberikan hidayah kepada ibunya untuk masuk Islam.
Imam muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Yazid bin 'Abdurahman, bahwasannya ia berkata: Abu Hurairah bercerita kepadaku:
“Aku senantiasa mengajak ibuku yang masih musyrik untuk masuk islam. Suatu hari, ketika aku mengajaknya untuk masuk islam, ia malah mengucapkan kepadaku tentang Rasulullah sesuatu yang aku tidak senang mendengarnya. Lalu aku mendatangi Rasulullah dalam keadaan menangis, kemudian aku katakan kepada beliau: 'Wahai Rasulullah, aku mengajak ibuku untuk masuk islam. Akan tetapi, ia enggan, bahkan sampai mengucapkan sesuatu tentang Engkau yang aku tidak senang mendengarnya. Berdo'alah, agar Allah memberi hidayah kepada ibuku.' Maka Rasulullah bersabda: 'Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.'
Kemudian, aku (kata Abu Hurairah) keluar dalam keadaan berbahagia dengan do'a dari Rasulullah. Setelah sampai di depan rumah, aku dapati pintunya tertutup. Ibuku mendengar langkah kakiku, lalu ia berkata: 'Tetaplah di tempatmu, wahai Abu Hurairah!' Saat itu, aku mendengar suara air.” Dia (Abu Hurairah) berkata (melanjutkan ceritanya): “Ibuku mandi, lalu segera memakai baju dan kerudungnya. Setelah itu, ia membuka pintu dan berkata : 'Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku juga bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.'
Kemudian, aku kembali menemui Rasulullah sambil menangis karena sangat bahagia. Aku berkata kepada beliau: 'Wahai Rasulullah, berbahagialah! Sungguh Allah telah mengabulkan do'amu dan telah memberi hidayah kepada ibunya Abu Hurairah.' Kemudian beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dan mengatakan sesuatu yang baik. Aku pun berkata: 'Wahai Rasulullah, berdo'alah kepada Allah agar menjadikanku dan ibuku mencintai hamba-hamba-Nya yang beriman, dan menjadikan merekapun mencintai kami.' Rasulullah bersabda: “Ya Allah, jadikanlah hati kaum mu'minin mencintai kedua hamba-Mu ini – yakni Abu Hurairah dan ibunya – dan jadikanlah keduanya mencintai kaum mu'minin.” Maka tidak ada seorang mu'min pun yang mendengar dan melihatku, kecuali ia mencintaiku.'” (HR. Muslim)

Bagi pembaca yang ingin mendapatkan biografi yang lebih rinci tentang beliau, silahkan membaca kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar rahimahullah.
Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita untuk bisa mengikuti jalan beliau dan para shahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum ajma’iin.