Abu Hurairah - Penghafal hadits lagi Orang yang Berbakti kepada Orang Tua

Beliau adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausy radhiyallahu ‘anhu. Beliau masuk islam pada tahun ke-7 Hijriyah.

Paling Banyak Hafalannya

Setelah masuk islam, beliau terus memusatkan perhatiannya untuk menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu saat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam suatu majelisnya, “Barangsiapa yang membantangkan kainnya, maka dia tidak akan lupa terhadap apa-apa yang telah dia dengar dariku. ” Maka Abu Huraira membentangkan kainnya sampai beliau shallallahu ‘alaih wa sallam menyelesaikan haditsnya, lalu dia meraih kainnya tersebut. (HR. Muslim)
Oleh karena itu, tidak mengherankan bila beliau radhiyallahu ‘anhu merupakan shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits darinya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Imam Syafi’I mengatakan tentang beliau radhiyallahu anhu : “la merupakan seorang yang paling banyak hafalannya di antara seluruh perawi hadits sesamanya.”
Imam Bukhari mengatakan, “Ada delapan ratus orang atau lebih dari shahabat, tabi’in, dan ahli ilmu yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah.”
Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan hafalan Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Maka dia dipanggil, dan dibawa duduk bersamanya. Kemudian, dia diminta untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasusullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu, dia menyuruh penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari balik dinding. Setelah berlalu satu tahun, Abu Hurairah dipanggil kembali dan diminta untuk menyampaikan kembali hadits-hadits yang dulu ia sampaikan di tempat tersebut. Ternyata, tidak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, walau satu patah kata pun.

Berbakti kepada Orang Tua

Semenjak ia menganut Islam, tidak ada yang memberatkan dan menekan perasaannya dari berbagai persoalan hidupnya, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah mengenai ibunya yang waktu itu menolak untuk masuk Islam, bahkan ia sesekali mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di depannya… Namun demikian, hal itu tidak membuat dia patah semangat untuk senantiasa berbakti kepadanya, khususnya dengan berusaha memberikan hidayah kepada ibunya untuk masuk Islam.
Imam muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Yazid bin 'Abdurahman, bahwasannya ia berkata: Abu Hurairah bercerita kepadaku:
“Aku senantiasa mengajak ibuku yang masih musyrik untuk masuk islam. Suatu hari, ketika aku mengajaknya untuk masuk islam, ia malah mengucapkan kepadaku tentang Rasulullah sesuatu yang aku tidak senang mendengarnya. Lalu aku mendatangi Rasulullah dalam keadaan menangis, kemudian aku katakan kepada beliau: 'Wahai Rasulullah, aku mengajak ibuku untuk masuk islam. Akan tetapi, ia enggan, bahkan sampai mengucapkan sesuatu tentang Engkau yang aku tidak senang mendengarnya. Berdo'alah, agar Allah memberi hidayah kepada ibuku.' Maka Rasulullah bersabda: 'Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.'
Kemudian, aku (kata Abu Hurairah) keluar dalam keadaan berbahagia dengan do'a dari Rasulullah. Setelah sampai di depan rumah, aku dapati pintunya tertutup. Ibuku mendengar langkah kakiku, lalu ia berkata: 'Tetaplah di tempatmu, wahai Abu Hurairah!' Saat itu, aku mendengar suara air.” Dia (Abu Hurairah) berkata (melanjutkan ceritanya): “Ibuku mandi, lalu segera memakai baju dan kerudungnya. Setelah itu, ia membuka pintu dan berkata : 'Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku juga bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.'
Kemudian, aku kembali menemui Rasulullah sambil menangis karena sangat bahagia. Aku berkata kepada beliau: 'Wahai Rasulullah, berbahagialah! Sungguh Allah telah mengabulkan do'amu dan telah memberi hidayah kepada ibunya Abu Hurairah.' Kemudian beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dan mengatakan sesuatu yang baik. Aku pun berkata: 'Wahai Rasulullah, berdo'alah kepada Allah agar menjadikanku dan ibuku mencintai hamba-hamba-Nya yang beriman, dan menjadikan merekapun mencintai kami.' Rasulullah bersabda: “Ya Allah, jadikanlah hati kaum mu'minin mencintai kedua hamba-Mu ini – yakni Abu Hurairah dan ibunya – dan jadikanlah keduanya mencintai kaum mu'minin.” Maka tidak ada seorang mu'min pun yang mendengar dan melihatku, kecuali ia mencintaiku.'” (HR. Muslim)

Bagi pembaca yang ingin mendapatkan biografi yang lebih rinci tentang beliau, silahkan membaca kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar rahimahullah.
Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita untuk bisa mengikuti jalan beliau dan para shahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum ajma’iin.

Posting Komentar