Ringkasan Fawaid Hadis Haramnya Kedhaliman - Arbain Nawawi XXIV

Dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang diriwayatkan dari Rabb-nya bahwa Dia berfirman, “Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi. Hai hamba-hamba-Ku! Setiap kalian adalah orang yang sesat kecuali siapa yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku beri kalian petunjuk. Hai hamba-hamba-Ku! Setiap kalian adalah lapar kecuali siapa yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, pasti Aku beri kalian makan. Hai hamba-hamba-Ku! Setiap kalian adalah telajang kecuali siapa yang Aku beri pakaian, maka mintalah kepada-Ku pakaian, pasti Aku akan beri kalian pakaian. Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian melakukan dosa di malam dan siang hari sementara Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni kalian. Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan sampai kepada bahaya-Ku lalu kalian membahayakan-Ku, dan tidak akan sampai kepada manfaat-Ku lalu kalian memberi-Ku manfaat. Hai hamba-hamba-Ku! Seandainya yang paling awal dan terakhir dari kalian baik jin dan manusia semuanya berada pada hati yang paling bertakwa salah seorang dari kalian, tentu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku! Seandainya yang paling awal dan terakhir dari kalian baik jin dan manusia semuanya berada pada hati yang paling durhaka salah seorang dari kalian, tentu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku! Seandainya yang paling awal dan terakhir dari kalian baik jin dan manusia semuanya berada di atas satu bukit, lalu semuanya meminta kepada-Ku, lalu Aku beri semua permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun apa yag ada di sisi-Ku, secuali sekedar seperti berkurangnya samudra jika jarum dimasukkan. Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku tulis untuk kalian kemudian Aku sempurnakan itu untuk kalian. Barangsiapa yang mendapati kebaikan hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain itu janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Teks Hadis
عَنْ أَبي ذرٍّ الغِفَارْي رضي الله عنه عَن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فيمَا يَرْويه عَنْ رَبِّهِ عزَّ وجل أَنَّهُ قَالَ: «يَا عِبَادِيْ! إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمَاً فَلا تَظَالَمُوْا. يَا عِبَادِيْ! كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِيْ! كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فاَسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِيْ! كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِيْ أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِيْ! إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعَاً فَاسْتَغْفِرُوْنِيْ أَغْفِرْ لَكُمْ. يَا عِبَادِيْ! إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضَرِّيْ فَتَضُرُّوْنِيْ وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ. يَا عِبَادِيْ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فَيْ مُلْكِيْ شَيْئَاً. يَا عِبَادِيْ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِيْ شَيْئَاً. يَا عِبَادِيْ! لَوْ أنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوْا فِيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِيْ فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ المِخْيَطُ إَذَا أُدْخِلَ البَحْرَ. يَا عِبَادِيْ! إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرَاً فَليَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ» رواه مسلم.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Dhalim yaitu penempatan sesuatu bukan pada tempatnya, Ibnu Taimiyah. (SU)
  2. Haramnya kedhaliman dari dua sisi :  (SU)
    1. Allah telah mengharamkannya atas Dirinya sendiri
    2. Allah telah menjadikannya haram antar manusia
  3. Kedhaliman ada dua tingkatan (SAS)
    1. Kedhaliman terhadap dirinya sendiri, ada dua : kesyirikan, dan mencampakkannya ke adzab;
    2. Kedhaliman terhadap hamba-hamba Nya, yaitu dengan melalaikan hak-hak mereka.
  4. Besarnya kebutuhan hamba kepada Allah. (SAM)
  5. Kesempurnaan kekuasaan dan kekayaan Allah; dan tidakbutuhnya Dia dari hamba-Nya. (SAM) 
  6. Kalimat terakhir mencakup dua makna : perintah, dan khabar. (SU)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Penetapan sifat adil, sebagai lawan darinya. (SAS)
  2. Menggabungkan hadis ini dengan hadis fithrah. (IRH)
  3. Hidayah ada dua, hidayah irsyaad wat taufiiq, dan hidayah terhadap rincian iman dan islam. (SAS)
  4. 'secuali sekedar seperti berkurangnya samudra jika jarum dimasukkan', yaitu tidak berkurang sedikitpun. (SAM)
  5. Makna ihshaa, yaitu mencakup pengetahuan dan penulisan terhadap rincian; dan penjagaannya. (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Istiqamah - Arbain Nawawi XXI

Dari Abu ‘Amr –ada yang berpendapat Abu Amrah– Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu berkata: aku berkata, “Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah ucapan yang tidak aku tanyakan lagi kepada selain Anda”’ Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah!’ kemudian istiqamahlah.’” Diriwayatkan oleh Muslim.

Teks Hadis
عَنِ أَبيْ عَمْرٍو -وَقِيْلَ أَبيْ عمْرَةَ- سُفْيَانَ بنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ» رواه مسلم

Ringkasan Fawaid Utama
  1. 'Aku beriman kepada Allah', yaitu 'Rabb-ku ialah Allah', sebagaimana dalam ayat. Dan ini memcakup agama seluruhnya. (SAS)
  2. Istiqamah yaitu tuntutan atas pendirian diri, di atas jalan yang lurus, yaitu islam. Mustaqiim, yaitu orang yang berdiri di atas syariat-syariat islam, berpegang teguh dengannya, baik secara lahir, maupun batin. (SU)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Dua makna istiqomah, yaitu tholab (tuntutan), dan luzuum wal katsroh. (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Malu - Arbain Nawawi XX

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu.’” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Teks Hadis
عَنْ أَبيْ مَسْعُوْدٍ عُقبَة بنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِيِّ البَدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِمَّا أَدرَكَ النَاسُ مِن كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذا لَم تَستَحْيِ فاصْنَعْ مَا شِئتَ» رواه البخاري.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. ‘Bila kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu.’ mempunyai dua makna (SU) :
    1. Perintah, sesuai dhohirnya; yaitu jika yang akan dilakukan itu tidak memalukan, baik di sisi Allah, maupun di sisi manusia; maka silahkan melakukannya.
    2. Bukan perintah, memiliki dua kemungkinan :
      1. Perintah bermakna ancaman,
      2. Perintah bermakna khabar
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Seluruh ajaran islam berporos di atas hadis ini. (IN)
  2. Keutamaan malu, dan sifat malu ada dua macam : sifat bawaan, sifat yang diusahakan. (SAS)
  3. Nubuwwatil uulaa, seperti Nuh, Ibrahim; bukan Musa, dan Nabi-nabi bani Israil lainnya. (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Jagalah Allah! - Arbain Nawawi IXX

Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: aku pernah di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu beliau bersabda, “Hai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarimu satu kalimat, ‘Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka kamu akan mendapatinya di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah! Seandainya umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah Allah tulis untukmu, dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa menimpakan bahaya kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditulis atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan berkata, “Hadits hasan shahih.”

Dalam riwayat selain at-Tirmidzi, “Jagalah Allah, maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah saat lapang, maka Dia akan mengenalmu saat susah. Ketahuilah! Apa yang meleset bagimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan meleset. Ketahuilah! Sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, sesungguhnya kelapangan itu bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan.

Teks Hadis
عَنْ أَبِي العَبَّاسٍ عَبْدِ اللهِ بنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَومَاً فَقَالَ: «يَا غُلاَمُ إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحفَظك، احْفَظِ اللهَ تَجِدهُ تُجَاهَكَ، إِذَاَ سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَاَ اسْتَعَنتَ فَاسْتَعِن بِاللهِ، وَاعْلَم أَنَّ الأُمّة لو اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك، وإِن اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ» رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح 
وفي رواية غير الترمذي: «اِحفظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إلى اللهِ في الرَّخاءِ يَعرِفْكَ في الشّدةِ، وَاعْلَم أن مَا أَخطأكَ لَمْ يَكُن لِيُصيبكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُن لِيُخطِئكَ، وَاعْلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَربِ، وَأَنَّ مَعَ العُسرِ يُسراً»

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Maksud dari menjaga Allah, yaitu menjaga perkara-Nya; yang mencakup (SU) :
    1. Perkara qodariy, yaitu dengan sabar
    2. Perkara syar'iy, yaitu dengan membenarkan kabar, dan mengikuti khithaab.
  2. Penjagaan Allah mencakup dua perkara : penjagaan-Nya, dan pemeliharaan-Nya (pertolongan dan pengokohan). (SU)
  3. Ma'rifat hamba kepada Allah ada dua : pengakuan atas rububiyah-Nya, dan pengakuan atas uluhiyah-Nya. (SU)
  4. Ma'rifatullaah kepada hamba ada dua : umum (ilmu-Nya), dan khusus (pertolongan dan pengokohan)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Jalur periwayatan hadis ini (riwayat tirmidzi), hasan. (IRH)
  2. Hadis tentang larangan berangan-angan untuk bertemu musuh, muttafaq 'alaih. (IN)
  3. Tingkatan paling rendah dari menjaga Allah, ialah mentauhidkan-Nya, kemudian melaksanakan perintah wajib, dan menjauhi larangan yang haram (SAS)
  4. Penjagaan Allah memiliki dua tingkatan : penjagaan dunia, dan penjagaan agama. (SAS)
  5. Musibah dan bencana yang menimpa hamba, ialah karena mereka melalaikan penjagaan kepada Allah. (SAS, IN)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Bertakwa kepada Allah - Arbain Nawawi XVIII

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan maka ia akan menghapusnya, dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan berkata, “Hadits hasan,” dalam redaksi lain, “Hasan shahih.”

Teks Hadis
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بِنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» رواه الترمذي وقال: حديث حسن، وفي بعض النسخ: حسنٌ صحيح.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Hadis ini mengandung dua wasiat Nabi (SU)
    1. Hak Allah, yaitu takwa dan mengikuti kejelekan dengan kebaikan
    2. Hak hamba, yaitu bermuamalah kepada makhluk dengan akhlak yang baik
  2. Takwa yaitu pengambilan pelindung oleh seorang hamba, antara dia dengan yang dia takuti, dengan memenuhi tuntunan syariat. (SU)
  3. Mengikuti kejelekan dengan kebaikan memiliki dua tingkatan. (SAS, SU)
  4. Akhlak yang baik, yaitu badzlun nadaa wa kafful adza (SAS)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Makna al-khuluq, dalam syariat ada dua : umum (agama) dan khusus (muamalah dengan manusia). (SU)
  2. Takwa merupakan wasiat yang paling agung. (SAS)
  3. Pengertian takwa menurut Thalq bin Habiib (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Pembagian Ilmu Agama Islam

Ilmu agama islam (syar'iyyah) semuanya terpuji. Ilmu syar'iyyah terbagi menjadi empat :

  1. Ushul, seperti al Quran, Sunnah, ijma', dan atsar shahabat
    1. Furu', yaitu apa-apa yang difahami dari ushul tersebut, berupa makna-makna yang akal manusia perhatian terhadapnya, sehingga difahami dari lafadz yang diucapkan, makna selainnya.
      Seperti makna yang difahami dari sabda Rasulullah,
      لا يقضي القاضي وهو غضبان
      (tidaklah boleh seorang hakim memutuskan perkara, dalam keadaan dia sedang marah)
      bahwasanya hakim tidak boleh memutuskan perkara, dalam keadaan dia sedang lapar
    2. Muqoddimaat, yaitu ilmu yang dipergunakan sebagai alat, seperti ilmu nahwu dan bahasa arab; karena keduanya merupakan ilmu alat untuk memahami al Quran dan Sunnah
    3. Mutammimaat, seperti ilmu qira-aat, makhoorijul huruuf; ilmu tentang nama-nama perawi hadis, dan tingkat kredibilas mereka.
    Semua ilmu tersebut adalah ilmu syar'iyyah, dan kesemuanya merupakan perkara yang terpuji. (Mukhtashor Minhaajul Qoshidiin, 26)

    Marji' : Fadhlul 'Ilm, Syaikh Sa'id Ruslan.

    Ringkasan Fawaid Hadis Berbuat Baik dalam Segala Sesuatu - Arbain Nawawi XVII

    Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Maka, apabila kalian membunuh membunuhlah dengan cara yang baik, dan apabila kalian menyembelih menyembelilah dengan baik pula. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan mempermudah penyembelihan.” Diriwayatkan oleh Muslim.

    Teks Hadis
    عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ» رواه مسلم.

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Bisa dimaknai dengan kitaabah qorariyyah dan kitaabah syar'iyyah. (SU, SAS) Makna yang kedua lebih nampak (SAS)
    2. Perintah ihsan dalam segala sesuatu, seperti ibadah, mumalah dg manusia, hewan, jin, malaikat, dll (SAS)
    3. Ihsan berkaitan dengan ibadah, maka maksudnya ialah ihsan yang wajib. (SAS)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Adab-adab dalam membunuh. (SAS)
    2. Adab-adab dalam menyembelih hewan. (SAS, IN)


    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Ringkasan Fawaid Hadis Jangan Marah - Arbain Nawawi XVI

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku nasihat!” Beliau menjawab, “Jangan marah.” Dia mengulangi beberapa kali dan beliau menjawab, “Jangan marah.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

    Teks Hadis
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوصِنِيْ! قَال: «لاَ تَغْضَبْ» فَرَدَّدَ مِرَارًا وَقَالَ: «لاَ تَغْضَبْ» رواه البخاري.

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Termasuk salah satu dari 4 hadis yang mengumpulkan adab-adab yang baik. (IN)
    2. Larangan dari marah, mencakup dua perkara : (SU)
      1. dari mendatangi sebab-sebab kemarahan
      2. dari melampiaskan kemarahan
    3. Larangan di sini, hanya untuk marah karena dirinya sendiri. Sementara marah karena Allah, merupakan perkara yang diperintahkan, dan merupakan tanda-tanda keimanan. (SU)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Keutamaan menjaga dari marah. (IN, IDQ)
    2. Cara mengobati marah (IN, SAS)
    3. Bermacam-macamnya wasiat Rasulullah, bisa karena dua kemungkinan. (SAS)
    4. Tentang taghoful. (SAS)


    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Ringkasan Tafsir as Sa'diy - Surat at-Tiin

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

    Kandungan secara umum

    - surat ini menunjukkan keutamaan tempat kelahiran, dan pengutusan nabi Muhammad, yaitu mekah

    Ayat 1 - 4

    - keutamaan pohon tiin dan zaitun
    - keutamaan Syam, yang merupakan tempat kenabian Isa
    - keutamaan bukit sinai, yang merupakan tempat kenabian Musa
    - keutamaan mekah, yang merupakan tempat kenabian Muhammad
    - sasaran sumpah ialah ayat 4, yang maknanya yaitu "kami telah menciptakan manusia dengan penciptaan yang sempurna"

    Ayat 5 dan 6

    - makna "asfalas saafiliin", yaitu neraka yang paling bawah
    - pengecualian orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dari pengembalian manusia ke neraka
    - hubungan dengan ayat sebelumnya, yaitu bahwasanya kebanyakan manusia lalai dari mensyukuri nikmat
    - besarnya kenkmatan surga
    - surga ialah makhluk yang kekal

    Ayat 7 dan 8

    - pencipataan manusia dengan sempurna, merupakan dalil adanya hari pembalasan; yaitu pasti Allah menyediakan negeri yang kekal untuk mereka.
    - hukum Allah merupakan hukum yang paling baik

    Ringkasan Tafsir as Sa'diy - Surat asy-Syarh

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

    Kandungan secara umum

    - surat ini menunjukkan keutamaan nabi Muhammad

    Ayat 1 - 4

    - makna ayat 1, yaitu kami melapangkanmu terhadap syariat agama Islam, da’wah kepada Allah, bersifat dengan akhlak yang mulia, kecenderungan terhadap akhirat, dan mempermudahmu kepada kebaikan-kebaikan.
    - makna ayat 2, yaitu kami telah mengampuni dosamu
    - makna ayat 4, yaitu kami meninggikan kedudukanmu
    - contoh peninggian kedudukan Rasulullah :
    1. dalam penyebutan, misal syahadatain, adzan, dll
    2. dalam kedudukan beliau di hati umatnya

    Ayat 5 dan 6

    - setiap ada kesulitan dan kesusahan maka kemudahan selalu bersamanya dan mengiringinya.
    - satu kesulitan, tidak akan mengalahkan dua kemudahan

    Ayat 7 dan 8

    - perintah kepada Rasulullah, merupakan perintah kepada umatnya
    - makna ayat 7, yaitu apabila engkau telah selesai dari kesibukanmu dan tidak tersisa dalam hatimu suatu rintangan, maka bersungguh-sungguhlah dalam ibadah dan doa.
    - makna ayat 8, yaitu hanya kepada Allah saja, kuatkanlah harapanmu agar doa dan ibadahmu diterima.

    Ringkasan Fawaid Hadis Kewajiban dalam Perintah dan Larangan - Arbain Nawawi IX

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang aku larang bagi kalian maka jauhilah, dan apa yang aku perintahkan kepada kalian maka kerjakan semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyak bertanya dan menyelisihi para nabi mereka.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

    Teks Hadis
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: «مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ» رواه البخاري ومسلم.

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Kewajiban kita dalam perintah dan larangan. (SU)
    2. Kaedah dalam larangan, yaitu perintah untuk menjauhi, bersamaan dengan larangan untuk mendekati. (SU)
    3. Perintah dikaikan dengan kemampuan. (SU)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Larangan ada dua, yaitu haram dan makruh. (SAS)
    2. Asal dari syariat adalah perintah, bukan larangan; dan larangan lebih sedikit dari perintah. (SAS)
    3. Larangan dalam ibadah ialah tahriim, sedangkan dalam adab ialah karoohah. (SAS)
    4. Menyelisihi perintah, lebih berat dari menyelisihi larangan. (SAS)


    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Ringkasan Fawaid Hadis Haramnya Darah Seorang Muslim - Arbain Nawawi VIII

    Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka melaksanakan hal tersebut, maka mereka telah memelihara harta dan darah mereka dariku kecuali dengan hak islam, dan hisab mereka diserahkan kepada Allah Ta’ala.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

    Teks Hadis
    عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوْا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهَمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى» رواه البخاري ومسلم.

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Bukanlah maksudnya, perintah untuk memerangi orang kafir hingga menjalankan ketiga syariat tsb. (SU, SAS)
    2. Yang dimaksud ialah kaum musyrikin, bukan ahli kitab. (IDQ, SAS)
    3. Ahli kitab, diberikan 3 pilihan. (SAS)
      1. Masuk Islam
      2. Diperangi hingga nampak agama Islam
      3. Membayar jizyah (ahli dzimmah)
    4. 'Ishmah ada dua, yaitu 'ishmatul haal dan 'ishmatul ma-aal (SU)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Orang yang menolak mengerjakan shalat, disuruh bertaubat terlebih dahulu. (SAS)
    2. Dua macam kekafiran berdasarkan konsekuensi hukum-hukum kekafiran. (SAS)
    3. Halalnya harta kafir harbiy (SAS)
    4. Asalnya, tidaklah beliau memerangi suatu kaum, sehingga meminta izin dan menjelaskan. (SAS)


    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Ringkasan Fawaid Hadis Agama adalah nasehat - Arbain Nawawi VII

    Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan pemimpin kaum muslimin dan orang awamnya.” Diriwayatkan oleh Muslim.

    Teks Hadis
    عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه أَنَّ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «للهِ، ولكتابه، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ» رواه مسلم.

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Hadis ini mencakup agama seluruhnya. (SU, SAS)
    2. Definisi nasehat, yaitu penunaian hak seorang hamba, kepada selainnya. (SU)
    3. Nasehat ditinjau dari kemanfaatannya, terbagi menjadi dua. (SU)
      1. Kemanfaatannya secara asal ialah untuk orang yang memberi nasehat, yaitu untuk tiga pertama
      2. Kemanfaatannya secara asal ialah untuk orang yang memberi nasehat, dan orang yang dinasehati.
    4. Nasehat untuk kelimanya, ada yang wajib dan ada yang mustahab.
    5. Tentang aimmatul muslimin (SU, SAS)
      • Yang dimaksud ialah ulil amri, selian ulama.
      • Termasuk di dalamnya, ialah ketua yayasan, dan semisalnya
    6. Hukum asal nasehat ialah dengan sembunyi-sembunyi, sedangkan nahi mungkar ialah dengan terang-terangan. (SAS)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Nasehat kepada ulama. (SAS)
    2. Contoh-contoh nasehat. (SAS)


    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Ringkasan Tafsir as Sa'diy - Surat adh Dhuha

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

    Kandungan secara umum

    - surat ini menunjukkan keutamaan nabi Muhammad

    Ayat 1 - 3

    - makna ayat 1 dan 2, yaitu Allah bersumpah dengan dhuha, dan malam apabila telah sunyi
    - kaedah "Penafian semata tidak menunjukkan pujian melainkan jika terkandung penetapan kesempurnaan."
    - makna ayat 3, yaitu "Allah tidak meninggalkanmu, bahkan senantiasa memeliharamu; dan tidak membencimu, bahkan senantiasa mencintaimu."
    - ayat 3 berkaitan dengan keadaan nabi Muhammad pada masa lalu, dan sekarang

    Ayat 4

    - makna ayat : setiap keadaan beliau hingga beliau diwafatkan, adalah semakin baik dari masa ke masa.
    - berkaitan dengan keadaan beliau yang akan datang, di dunia.

    Ayat 5

    - merupakan ungkapan yang sangat sempurna dan lengkap
    - berkaitan dengan kehidupan beliau di akhirat

    Ayat 6 - 8

    - tentang karunia-karunia Allah secara khusus kepada beliau
    - makna ayat 7, yaitu beliau tidak mengetahui apa itu kitab dan iman, kemudian Allah mengajari apa yang tidak beliau ketahui dan memberi petunjuk kepadanya terhadap amalan-amalan dan akhlak yang baik.

    Ayat 9 - 11

    - sebagai bentuk syukur atas kenikmatan2 sebelumnya
    - makna "laa tanhar", yaitu janganlah keluar darimu perkataan terhadap mereka hardikan dan akhlak yang buruk. Akan tetapi, berilah sesuai kelapanganmu atau tolaklah dengan cara yang baik dan sopan.
    - "penuntut ilmu" termasuk keumuman ayat 10
    - ayat 11 mencakup nikmat agama maupun dunia; maka diperintahkan utk memuji Allah atas nikmat2 tersebut.

    Ringkasan Tafsir as Sa'diy - Surat al Faatihah

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

    Tasmiyah

    - makna ismullaah, yaitu mencakup seluruh nama-nama Allah
    - makna lafadz jalaalah Allah, yaitu dzat yang disembah, yang diibadahi, yang berhak diesakan dalam peribadatan; karena Dia disifati dengan sifat-sifat uluhiyah yang merupakan sifat-sifat yang sempurna

    Arrahmaan Arrahiim

    - makna / terjemahan, yaitu yang maha pemurah, lagi maha penyayang
    - kaedah : "beriman dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya serta hukum-hukum sifat tersebut."

    Ayat 1

    - makna "alhamdulillaah", yaitu pujian atas Allah karena sifat-sifat-Nya yang sempurna dan perbuatan-perbuatan-Nya yang didasari kebaikan dan keadilan. Dan hanya milik Allah segala pujian yang sempurna dari segala sisi.
    - dua macam tarbiyah

    Ayat 3

    - makna "maalik", yaitu yang menguasai
    - makna yaumuddiin, yaitu hari kiamat, hari di mana manusia dibalas amalan-amalan baik dan buruk mereka

    Ayat 4

    - kaedah "pendahuluan ma'muul, memberikan faedah pembatasan". Sehingga maknanya ialah 'Kami menyembah kepadamu dan tidak menyembah kepada selainmu, kami
    meminta pertolongan kepadamu dan tidak meminta pertolongan kepada selainmu.'
    - definisi ibadah, yaitu nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah dari perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan, baik zahir maupun batin.
    - dua syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas dan mutaaba'ah
    - pentingnya isti'aanah dalam setiap ibadah

    Ayat 5 - 7

    - makna shiraathal mustaqiim, yaitu mengetahui kebenaran, dan mengamalkannya
    - 'ihdinash shiraathal mustaqiim', mencakup dua hal :
    1. hidaayah ilash shiraat, yaitu berpegang teguh dengan islam, dan meninggalkan agaman-agama selainnya
    2. hidaayah fish shiraat, mencakup hidayah kepada seluruh rincian-rincian agama islam, baik secara ilmu maupun amal
    - doa ini merupakan diantara doa yang paling lengkap, dan paling bermanfaat bagi hamba; oleh karena itu, kita diwajibkan utk membacanya setiap rekaat dalam shalat.

    faedah lain dari surat al faatihah 

    - mengandung 3 macam tauhid
    - mengandung penetapan terhadap kenabian
    - mengandung penetapan terhadap takdir, dan pembalasan terhadap amal hamba
    - mengandung bantahan terhadap semua ahli bid'ah


    بِسْمِ اللَّهِ
    (Dengan menyebut nama Allah)
    1. {بِسْمِ اللَّهِ} أي: أبتدئ بكل اسم لله تعالى
    2. {اللَّهِ} هو المألوه المعبود، المستحق لإفراده بالعبادة، لما اتصف به من صفات الألوهية وهي صفات الكمال.
    الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
    (yang maha pengasih lagi maha penyayang)
    1. {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} اسمان لله
    2. واعلم أن من القواعد المتفق عليها بين سلف الأمة وأئمتها، الإيمان بأسماء الله وصفاته، وأحكام الصفات.

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam)
    1. {الْحَمْدُ لِلَّهِ} [هو] الثناء على الله بصفات الكمال، وبأفعاله الدائرة بين الفضل والعدل، فله الحمد الكامل، بجميع الوجوه.
    2. وتربيته تعالى لخلقه نوعان: عامة وخاصة.

    مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
    (yang menguasai hari pembalasan)
    1. المالك: هو من اتصف بصفة الملك
    2. يوم الدين، وهو يوم القيامة، يوم يدان الناس فيه بأعمالهم،

    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    (hanya kepadamu kami menyembah, dan hanya kepadamu kami mohon pertolongan)
    1. لأن تقديم المعمول يفيد الحصر، وهو إثبات الحكم للمذكور، ونفيه عما عداه. فكأنه يقول: نعبدك، ولا نعبد غيرك، ونستعين بك، ولا نستعين بغيرك.
    2. {العبادة} اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأعمال، والأقوال الظاهرة والباطنة.
    3. {الاستعانة} هي الاعتماد على الله تعالى في جلب المنافع، ودفع المضار، مع الثقة به في تحصيل ذلك.
    4. وإنما تكون العبادة عبادة، إذا كانت مأخوذة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم مقصودا بها وجه الله. فبهذين الأمرين تكون عبادة،
    5. فإنه إن لم يعنه الله، لم يحصل له ما يريده من فعل الأوامر، واجتناب النواهي.

    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
    (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah engkau berikan kenikmatan, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat)
    1. أي: دلنا وأرشدنا، ووفقنا للصراط المستقيم ... وهو معرفة الحق والعمل به،
    2. فاهدنا إلى الصراط واهدنا في الصراط.
      1. فالهداية إلى الصراط: لزوم دين الإسلام، وترك ما سواه من الأديان،
      2. والهداية في الصراط، تشمل الهداية لجميع التفاصيل الدينية علما وعملا.
    3. فهذا الدعاء من أجمع الأدعية وأنفعها للعبد ولهذا وجب على الإنسان أن يدعو الله به في كل ركعة من صلاته، لضرورته إلى ذلك.


    1. فتضمنت أنواع التوحيد الثلاثة
    2. وتضمنت إثبات النبوة
    3. وإثبات الجزاء على الأعمال
    4. وتضمنت إثبات القدر
    5. تضمنت الرد على جميع أهل البدع 

    Ringkasan Fikih Mutawassithoh - Kitab Thaharah

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

    Thaharah

    - Definisi thaharah yaitu pengangkatan hadats dan penghilangan najaasah
    - Dua macam thaharah :
    1. thaharah dari najaasah
    2. thaharah dari hadats
    Thaharah dari hadats, terbagi menjadi dua :
    1. thaharah dari hadats besar, yaitu dengan mandi
    2. thaharah dari hadats kecil, yaitu dengan wudhu

    Air

    Air terbagi menjadi dua, yaitu
    1. Air thohur / suci
    Air jenis ini boleh digunakan untuk thaharah / bersuci.
    Contohnya ialah air sumur
    2. Air najis
    Air jenis ini tidak boleh digunakan untuk thaharah.
    Contohnya ialah air selokan

    Hukum-hukum Najaasaat

    - Definisi najaasaat yaitu segala sesuatu yang dianggap kotor oleh syariat , yang menghalangi keabsahan shalat dan thawaf.
    - Dua macam najaasah, yaitu
    1. Najaasah dzaatiyah
    Contohnya ialah air kencing manusia
    2. Najaasah hukmiyah
    Contohnya ialah pakaian yang terkena air kencing

    Tiga tingkatan najaasah

    1. mugholladhoh (berat), yaitu apa-apa yg terkena jilatan anjing
    2. mukhoffafah (ringah), seperti air kencing bayi laki-laki yang hanya minum ASI
    3. mutawassithoh (pertengahan)
    - Cara membersihkan pakaian yang terkena najis ialah dengan dibasuh dengan air hingga najis hilang
    - Hukum air kencing dan kotoran hewan yang halal dimakan, yaitu suci

    Hukum-hukum buang air

    - Adab-adab buang air

    Istinjaa' dan Istijmaar

    - Istinjaa' yaitu menghilangkan bekas / sisa dari apa-apa yang keluar dari dua jalan, dengan air
    - istijmaar yaitu menghilangkan bekas / sisa dari apa-apa yang keluar dari dua jalan, dengan batu, atau yang semisalnya
    - Lima syarat benda yang boleh digunakan untuk istijmaar, yaitu : suci, boleh digunakan, dapat membersihkan, bukan dari tulang / kotoran, dan bukan barang yang dimuliakan.
    - Boleh mencukupkan bersuci dengan istijmar, dengan dua syarat :
    1. kotoran hanya mengenai tempat keluar yang wajar
    2. minimal dengan 3 kali usapan dari batu / sejenisnya

    Referensi :
    كتاب الفقه للمتوسطة وزارة التربية والتعليم - السعودية

    Ringkasan Fawaid Hadis Halal dan Haram - Arbain Nawawi VI

    Dari Abu Abdillah an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram telah jelas, dan di antara keduanya ada hal-hal yang samar yang tidak diketahui kebanyakan manusia. Barangsiapa menjaga diri dari hal yang samar (syubhat), sungguh dia telah memelihara agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang terjatuh pada yang syubhat, maka dia akan terjatuh pada yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar tanah larangan yang suatu saat akan memasukinya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki batas larangan. Ketahuilah batas larangan Allah adalah hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik baik pula seluruh tubuh, tetapi jika buruk buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

    Teks Hadis
    عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بِشِيْر رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: «إِنَّ الحَلالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَات لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِه، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ. أَلا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَىً. أَلا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ. أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ» رواه البخاري ومسلم.

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Hadis ini merupakan salah satu dari 3 hadis yang agama islam berputar padanya, Imam Ahmad. (IR)
    2. Segala sesuatu terbagi menjadi 3 (SU, SAS)
      1. Halal yang jelas,
      2. Haram yang jelas,
      3. Musytabih.
    3. Definisi musytabih. (SAS)
      1. Secara bahasa : bercampur
      2. Secara istilah, sebagaimana QS. ali imran : 7, yaitu apa-apa yang samar ilmu atau hukumnya bagi orang yang mau mengamalkan.
    4. Musytabih, mencakup 2 keadaan (SAS)
      1. Samar bagi ulama, maka wajib tawaqquf
      2. Samar bagi selain ulama, maka wajib bertanya atau menjauhi perkara tsb
    5. Makna "maka dia akan terjatuh pada yang haram", yaitu telah terjatuh kepada perkara haram, karena tidak memelihara agama dan kehormatan; dalam permasalah yang jelas musytabih. (SAS, SU)
    6. Besarnya peran hati dalam anggota badan, seperti pemimpin dan rakyat. (SU)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Keluar dari perselisihan para ulama, hukumnya mustahab; seperti batas rukhshoh safar hanya 4 hari. (SAS)
    2. Wara' tidak termasuk hadis ini krn hukumnya sunnah. (SAS)
    3. Perbedaan bid'ah dengan mashaalih mursalah. (SAS)
    4. Permasalahan penghasilan dari halal dan haram. (SAS)


    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Ringkasan Fawaid Hadis Bahaya Bid'ah - Arbain Nawawi V

    Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-mengada dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” Diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim.
    Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak.

    Teks Hadis
    عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ» رواه البخاري ومسلم.
    وفي رواية لمسلم: «مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Hadis ini merupakan timbangan amal dhohir, sebagaimana hadis umar merupakan timbangan amal bathin. (SU)
    2. Lima point dari definisi bid'ah. (SU, SAS)
    3. Bid'ah bisa terjadi di perkataan, perbuatan, dan aqidah. (SAS)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Perkara agama, mencakup ibadah dan muamalah. Contoh bid'ah dalam muamalah ialah penggantian hukuman cambuk dengan denda harta. (SAS)
    2. Perbedaan bid'ah dengan mashaalih mursalah. (SAS)
    3. Bid'ah secara bahasa. (SAS)



    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Ringkasan Fawaid Hadis Proses Penciptaan Manusia dan Takdir yang Menyertainya - Arbain Nawawi IV

    Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kami dan beliau seorang yang jujur lagi diakui kejujurannya, “Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berupa sperma, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian diutus seorang malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan empat kalimat: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia. 
    Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amal penghuni surga hingga jarak antaranya dan surga hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu dia beramal dengan amal penduduk neraka lalu ia pun memasukinya. Dan seseungguhnya seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amal penduduk neraka hingga jarak antaranya dengan neraka hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amal penduduk surga, maka ia pun memasukinya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

    Teks Hadis
    عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوْقُ: «إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيَؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَالله الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَايَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا» رواه البخاري ومسلم

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Hadis ini merupakan pokok dalam bab takdir (SAS)
    2. Pada keadaan 'alaqah, sudah dapat diketahui laki-laki / perempuan. (SU, SAS)
    3. Penulisan takdir dalam rahim terjadi dua kali : (SU)
      • Setelah 40 hari pertama, di awal kedua (hadis hudzaifah)
      • Setelah 40 hari yang ketiga / 3 bulan (hadis ini)
    4. Peniupan ruh setelah 40 hari ketiga, merupakan perkara 'kebanyakan'; kadang terjadi sebelum itu (SAS)
    5. Empat macam penulisan takdir : (SAS)
      1. takdir saabiq di lauhul mahfuudz (tidak dapat berubah)
      2. takdir 'umri (hadis ini)
      3. takdir sanawiy
      4. takdir yaumiy
    6. Tambahan 'fii maa yabduu linnaas', dalam hadis sahl bin sa'd di shahihain (SU)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Disunnahkan sumpah dalam rangka menekankan perkara tersebut dalam hati (IN)
    2. Empat macam hubungan ruh dan badan (SAS)



    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Kajian Nawaqidhul Islam | Pembatal-pembatal Islam


    Risalah Nawaqidhul Islam merupakan risalah yang sangat penting. Bahkan, sebagian ulama menjadikannya sebagai risalah pertama yang dipelajari oleh penuntut ilmu, di bidang tauhid, sebelum Tsalatsatul Ushul dan Qowa'idul Arba'.
    Berikut ini beberapa point faedah yang kami sarikan dari dars syarh nawaqidhil islam oleh Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullaah.
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
    اعْلَمْ أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ نَوَاقِضِ الإِسْلَامِ عَشَرَة
    Ketahuilah bahwa termasuk pembatal keislaman terbesar ada 10 yaitu:
    • Makna Nawaqidhul Islam 
    • Pentingnya Mengetahui Nawaqidhul Islam 
      • 1. Perhatian para Ulama terhadapnya 
      • 2. Dhoruriyyaat Khomsah 
    • Empat Ushul Riddah : perkataan, keyakinan, perbuatan, dan keragu-raguan 
    • Tiga Macam Manusia menyikapi Nawaqihul Islam 
      • 1. Khawarij 
      • 2. Murji'ah 
      • 3. Ahlus Sunnah
    الأَوَّلُ: الشِّرْكُ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَالدَلِيلُ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء﴾ وَمِنْهُ الذَّبْحُ لِغَيْرِ اللهِ، كَمَنْ يَذْبَحُ لِلْجِنِّ أَوْ لِلْقَبْرِ.
    Pertama: syirik dalam beribadah kepada-Nya. Dalilnya adalah firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya Allâh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa di bawahnya bagi siapa yang dikehendaki-Nya?” (QS. An-Nisâ [4]: 48) 
    Di antara syirik adalah menyembelih untuk selain Allâh seperti orang yang menyembelih untuk jin atau orang mati.
    • Wajibnya takut terhadap fithah agama, khususnya syirik 
    • Definisi Ibadah
    • Dua syarat ibadah : Ikhlas dan Mutaaba'ah
    • Makna Syirik, dan pendapat-pendapat yang salah tentang syirik 
    • Dua macam syirik
    الثَّانِي: مَنْ جَعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ وَسَائِطَ يَدْعُوهُمْ وَيسْأَلُهُمْ الشَّفَاعَةَ، وَيَتَوَكَّلُ عَلَيْهِمْ كَفَرَ إِجْمَاعًا.
    Kedua: siapa menjadikan perantara-perantara antara dirinya dengan Allâh di mana dia berdoa kepada mereka, meminta syafaat kepada mereka, dan bertawakkal kepada mereka, maka dia kafir berdasarkan ijma’.
    • Tafsir wasilah di al-maidah:35 dan al-isro:57
    • Allah tidak serupa dg Raja dunia yg butuh wasilah/menteri
    • Orang Shalih dan wasilah
      • Keshalihan orang shalih ialah untuk dirinya sendiri
      • Tawassul, dan Macam-macamnya :
        • 1. Tawassul dibolehkan (dg nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan dg doa orang shalih yg masih hidup)
        • 2. Tawassul dilarang : dg kedudukan/hak/pribadi orang  shalih (merupakan wasilah kepada syirik)
      • Syafa'at, dan macam-macamnya
        • 1. Syafa'at yg ditetapkan, dan syarat-syaratnya
        • 2. Syafa'at yg ditolak
    الثَّالِثُ: مَنْ لَمْ يُكَفِّرِ المُشْرِكِينَ أَوْ شَكَّ فِي كُفْرِهِمْ، أَوْ صَحَّحَ مَذْهَبَهُم،ْ كَفَرَ.
    Ketiga: siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, ragu akan kekafiran mereka, atau membenarkan keyakinan mereka, maka dia kafir berdasarkan ijma’.
    • Keumuman risalah nabi muhammad
    • Kekafiran mencakup agama (misal yahudi, nashrani, Hindu) dan pemikiran (misal sekulerisme, komunisme, liberalisme)
    • Hal-hal yang berkaitan dg pengkafiran orang kafir :
      • Wajibnya membenci orang kafir
      • Tidak boleh mengurusi jenazahnya
      • Tidak mewarisi, dan diwarisi
      • Tidak boleh menikahkan putrinya dg mereka
      • Wajibnya hijrah dari negeri kafir, jika tidak mampu menampakkan agamanya
      • Tidak memulai salam
      • Tidak mendahulukan mereka dalam duduk / jalan
      • Tidak boleh masuk masjidil haram
      • Wajibnya waliyul amri untuk mengeluarkan mereka dari arab
      • Larangan memuji mereka
      • Larangan tasyabbuh dengan mereka
    • Diperbolehkan bermuamalah dg mereka dlm perkara2 mubah, kemanfaatan bersama; tanpa wala' dan kecintaan, seperti berdagang, mengadakan perjanjian, membalas kebaikan
    الرَّابِعُ: مَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ غَيْرَ هَدْي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم أَكْمَلُ مِنْ هَدْيِهِ وَأَنَّ حُكْمَ غَيْرِهِ أَحْسَنُ مِنْ حُكْمِهِ كَالذِينَ يُفَضِّلُونَ حُكْمَ الطَّوَاغِيتِ عَلَى حُكْمِهِ فَهُوَ كَافِرٌ.
    Keempat: siapa yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna daripada petunjuk beliau, atau selain hukum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada hukum beliau seperti orang-orang yang lebih mendahulukan hukum thaghut daripada hukum beliau, maka dia kafir.

    • Petunjuk beliau merupakan petunjuk yang paling baik
    • Hukum beliau merupakan hukum yang paling sempurna
    • Contoh-contoh kekufuran berkaitan dg berhukum kepada selain syariat Islam
    • Hukum Allah merupakan ibadah, dan kewajiban bagi seluruh manusia
    • Kafir ashghor dalam berhukum kepada selain syariat islam
    • Berhukum dengan syariat islam mencakup pertikaian, aqidah, ibadah, amar ma'ruf nahi mungkar

    الخَامِسُ: مَنْ أَبْغَضَ شَيْئًا مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم - وَلَوْ عَمِلَ بِهِ -، كَفَرَ، وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ﴾
    Kelima: siapa membenci apa pun dari apa yang dibawa Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun mengerjakannya, maka ia kafir. Dalilnya adalah firman-Nya: “Demikian itu karena mereka membenci apa yang Allâh turunkan sehingga Dia menghapus amal kebaikannya.” (QS. Muhammad [47]: 9)

    • Apa-apa yg dibawa oleh Rasul / apa-apa yg diturunkan oleh Allah, ada 2 : alquran dan assunnah
    • Tiga kelompok manusia menyikapi apa-apa yg diturunkan oleh Allah :
      • 1. Kafir ashliy => membenci
      • 2. Munafiqin => membenci
      • 3. Mukminin => mencintai
    • Contoh-contoh pada jaman sekarang : riba, persamaan gender (warisan, pekerjaan), hijab, liberalisme
    • Bahayanya pembatal ini, krn kesamarannya
    • Wajibnya memuliakan alquran dan assunnah


    السَّادِسُ: مَنِ اسْتَهْزَأَ بِشَيْءٍ مِنْ دِينِ اللهِ، أَوْ ثَوَابِهِ، أَوْ عِقَابِهِ، كَفَرَ، وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ * لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾
    Keenam: siapa yang mengolok-olok apa pun dari agama Allâh, atau pahala-Nya, atau siksa-Nya adalah kafir. Dalilnya adalah firman-Nya: “Katakanlah: apakah terhadap Allâh, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian mengolok-ngolok. Tidak perlu meminta maaf karena sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman.” (QS. At-Taubah [9]: 65-66)

    • Faedah-faedah dari ayat :
      • - wajib memuliakan Allah, rasul-Nya, al-quran, assunnah, shahabat, ulama
      • - keumuman hukum bagi pengucap dan pendengar (tnp pengingkaran)
      • - bergurau dan main-main dalam mencela
      • - kebodohan terhadap hukuman, tidak menghalangi pengkafiran
    • Istihzah' ada dua macam : dg isyarat dan dg lisan

    السَّابِعُ: السِّحْرُ - وَمِنْهُ: الصَّرْفُ وَالعَطْفُ-، فَمَنْ فَعَلَهُ أَوْ رَضِيَ بِهِ كَفَرَ، وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ﴾
    Ketujuh: sihir misalnya sharf dan ‘athf. Siapa yang melakukannya atau ridha terhadapnya maka kafir. Dalilnya adalah firman-Nya: “Keduanya tidak mengajari seorangpun kecuali mengatakan: kami hanyalah fitnah maka janganlah kamu kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

    • Sihir ada 2 macam : haqiqiy dan tahyiliy
    • Terdapat 5 sisi pendalilan dari ayat, ttg kafirnya tukang sihir
    • Pengkafiran thd sihir mencakup : orang yg belajar, yg mengajar, yg mengamalkan, yg ridha
    • Taubat tukang sihir tidak menghalangi hukuman mati
    • Pengobatan dari sihir ialah dg rukyah

    الثَّامِنُ: مُظَاهَرَةُ المُشْرِكِينَ وَمُعَاوَنَتُهُمْ عَلَى المُسْلِمِينَ وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين﴾
    Kedelapan: menolong orang-orang musyrik dan membantu mereka dalam melawan kaum muslimin. Dalilnya adalah firman-Nya: “Siapa dari kalian yang berloyal kepada mereka maka ia bagian dari mereka. Sesungguhnya Allâh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (QS. Al-Mâ`idah [5]: 51)

    • Termasuk bab "loyalitas kepada orang kafir"
    • Macam-macam menolong orang kafir dalam menjatuhkan kaum muslimin :
      • - mudhooharoh yg disertai kecintaan
      • - mudhooharoh yg terpaksa, tanpa kecintaan (misal kaum muslimin yg mampu berhijrah, tp tidak melakukannya) => dikhawatirkan kekafirannya
      • - mudhooharoh, tanpa paksaan dan tanpa kecintaan => dikhawatirkan kekafirannya
      • - menolong orang kafir dalam menjatuhkan orang kafir yg mengikat perjanjian dg kaum muslimin => haram
      • - mencintai orang kafir, tanpa menolong mereka => haram
    • Permasalahan :
      • - pernikahan antara muslim dengan kafir
      • - membalas kebaikan orang kafir
      • - bolehnya bermuamalah dg orang kafir, dlm perkara dunia
      • - berbakti kpd orang tua yg kafir
      • - mudaaraah, bukan mudaahanaah

    التَّاسِعُ: مَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ يَسَعُهُ الخُرُوجُ عَنْ شَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَم كَمَا وَسِعَ الخَضِرُ الخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيهِ السَّلَامُ، فَهُوَ كَافِرٌ.
    Kesembilan: siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia tidak wajib mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia boleh keluar dari syariat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Khidhir keluar dari syariat Musa ‘alaihissalam, maka ia kafir.

    • Keumuman risalah beliau, shg semua manusia wajib mengikuti beliau
    • Khidir bukan dari bani israil, shg tidak wajib mengikuti syariat musa
    • Kekufuran ialah bagi orang yang menghalalkan
    • Point ini mencakup : orang sekuler (memisahkan negara dari agama), ahli kalam (memisahkan aqidah dari alquran dan assunnah)

    العَاشِرُ: الإِعْرَاضُ عَنْ دِينِ اللهِ تَعَالَى لَا يَتَعَلَّمُـهُ وَلَا يَعْمَـلُ بِهِ، وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ﴾
    Kesepuluh: berpaling dari agama Allâh dengan tidak mempelajarinya atau mengamalkannya. Dalilnya firman-Nya: “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada seseorang yang dibacakan kepadanya ayat-ayat Rabb-nya lalu dia berpaling darinya. Sesungguhnya Kami akan menghukum orang-orang pendosa.” (QS. As-Sajdah [32]: 22)

    • Belajar ilmu agaman terbagi menjadi dua : fardhu 'ain dan fardhu kifayah
    • Makna i'fadh, yaitu berpaling dari sesuatu, disertai tidak adanya keinginan terhadap sesuatu tsb
    • Kisah 3 orang, dg 3 sikap berbeda thd majelis rasulullah
    • Kisah 3 orang yg pertama kali dilemparkan ke neraka
    • Keutamaan belajar ilmu agama

    وَلَا فَرْقَ فِي جَمِيعِ هَذِهِ النَّوَاقِضِ بَيْنَ الهَازِلِ وَالجَادِّ وَالخَائِفِ إِلَّا المُكْرَهِ. وَكُلُّهَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ خَطَرًا، وَأَكْثَرِ مَا يَكُونُ وُقُوعًا، فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْذَرَهَا وَيَخَافَ مِنْهَا عَلَى نَفْسِهِ. نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ مُوجِبَاتِ غَضَبِهِ، وَأَلِيمِ عِقَابِهِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
    Tidak ada perbedaan dalam pembatal-pembatal ini antara orang yang bercanda, serius, atau takut kecuali orang yang dipaksa. Semua pembatal ini termasuk perkara besar yang perlu diwaspadai dan termasuk perkara yang sering terjadi. Wajib bagi setiap muslim untuk mewaspadainya dan takut menimpa dirinya. Kita berlindung kepada Allâh dari mendapatkan kemurkaan-Nya dan pedihnya siksa-Nya.

    • Tidak adanya udzur krn bermain-main, sungguh-sungguh, dan takut; kecuali dipaksa
    • Syarat paksaan sebagaimana di an-nahl:106


    Referensi :
    - http://terjemahmatan.blogspot.com/2015/11/nawaqidhul-islam-pembatal-islam-matan.html
    - Syarh Nawaqidhul Islam, Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullaah

    Biografi Ringkas Muhammad bin Abdul Wahhab


    Nama dan Nasab

    Imam Mujaddid Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhad bin Sulaiman bin 'Aliy at-Tamimiy

    Kelahiran

    Lahir di 'Uyainah 1115 H.

    Kehidupan Ilmiyah


    • Beliau tumbuh di lingkungan yg penuh dengan ilmu, kemuliaan, dan agama. 
    • Ayah beliau ialah seorang ulama besar, dan kakek beliau ialah seorang ulama yang terkenal di Nejd.
    • Telah menyelesaikan hafalan al Quran sebelum mencapai usia 10 tahun.
    • Beliau dikaruniai hafalan yang kuat, sehingga menghafal banyak matan-matan dalam berbagai bidang
    • Beliau juga bersungguh-sungguh dan semangat dalam menuntut ilmu

    Karya

    Diantara karya beliau :

    • Kitabut Tauhid, 
    • Kasyfusy Syubuhaat, 
    • Ushul Tsalatsah, 
    • Nawaqidhul Islam, 
    • Fadhlul Islam
    • dan lain-lain

    Wafat

    Beliau wafat 1206 H, 91 tahun.

    Kajian Ushul Sittah | Enam Landasan dalam Beragama

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
    مِنْ أَعْجَبِ الْعُجَابِ ، وَأَكْبَرِ الآيَاتِ الدَّالَةِ عَلَى قُدْرَةِ الْمَلِكِ الْغَلَّابِ سِتَّةُ أُصُوْلٍ بَيَّنَهَا اللهُ تَعَالَى بَيَانًا وَاضِحًا لِلْعَوَامِّ فَوْقَ مَا يَظُنُّ الظَّانُّوْنَ، ثُمَّ بَعْدَ هَذَا غَلِطَ فَيْهَا أَذْكِيَاءُ الْعَالَمِ وَعُقَلَاءُ بَنِيْ آدَمَ إِلَّا أَقَلَّ الْقَلِيْلِ .
    Di antara perkara yang sangat menakjubkan dan sekaligus sebagai tanda yang sangat besar atas kekuasaan Allah Ta’ala adalah enam landasan yang telah Allah Ta’ala terangkan dengan sangat gamblang sehingga mudah dipahami oleh orang-orang awam sekalipun, lebih dari yang disangka oleh orang-orang. Namun setelah ini, orang-orang yang cerdas dan berakal dari kalangan Bani Adam keliru dalam masalah itu, kecuali sedikit sekali dari mereka.
    --------------------------
    • Basmalah
      • tujuan, yaitu meminta keberkahan dan pertolongan
      • perbedaan arrahman dan arrahim
    • Penjelasan umum tentang isi kitab, yaitu enam perkara pokok yang banyak orang keliru
    • Sebab kekeliruan, yaitu
      • hanya mencukupkan alquran sbg bahan bacaan, tnp tadabbur
      • taklid kepada nenek moyang


    اَلْأَصْلُ الْأَوَّلُ : إِخْلَاصُ الدِّيْنِ لِلهِ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لهُ ، وَبَيَانُ ضِدِّهِ الذِيْ هُوَ الشِّرْكُ بِاللهِ، وَكَوْنُ أَكْثَرِ الْقُرْآنِ فِي بَيَانِ هَذَا الْأَصْلِ مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِ، ثُمَّ صَارَ عَلَى أَكْثَرِ الْأُمَّةِ مَا صَارَ . أَظْهَرَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ الْإِخْلَاصَ فِي صُوْرَةِ تَنَقُّصِ الصَّالِحِيْنَ وَالتَّقْصِيْرِ فِي حُقُوْقِهِمْ، وَأَظْهَرَ لَهُمُ الشِّرْكَ بِاللهِ فِي صُوْرَةِ مَحَبَّةِ الصَّالِحِيْنَ وَاتِّبَاعِهِمْ .

    Landasan Pertama - Ikhlas dan penjelasan lawannya, yaitu syirik 

    Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan penjelasan lawannya yaitu kesyirikan terhadap Allah. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan landasan tersebut dari berbagai sisi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam yang paling bodoh sekalipun. Kemudian seiring berjalannya waktu, tatkala terjadi perubahan pada mayoritas masyarakat, setan menampakkan kepada mereka keikhlasan dalam bentuk penghinaan kepada orang-orang shalih dan merendahkan hak-hak mereka serta menampakkan kesyirikan kepada Allah Ta’ala dalam bentuk kecintaan kepada orang-orang shalih dan pengikut mereka.
    -------------------------
    • Perkataan Ibnul Qayyim : Semua ayat dalam al-quran berbicara tentang tauhid
    • Makna tauhid (jika disebutkan terpisah) ialah tauhid uluhiyah
    • Semua umat manusia mengakui tauhid rububiyah, baik secara fithrah maupun dhoruriy
    • Wajibnya mencintai orang shalih, dan larangan berlebihan di dalamnya
    اَلْأَصْلُ الثَّانِيْ أَمَرَ اللهُ بِالاجْتِمَاعِ فِي الدِّيْنِ وَنَهَى عَنِ التَّفَرُّقِ، فَبَيَّنَ اللهُ هَذَا بَيَانًا شَافِيًا تَفْهَمُهُ الْعَوَامُّ ، وَنَهَانَا أَنْ نَكُوْنَ كَالذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا قَبْلَنَا فَهَلَكُوْا، وَذَكَرَ أَنَّهُ أَمَرَ الْمُسْلِمِيْنَ بِالاجْتِمَاعِ فِي الدِّيْنِ وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّفَرُّقِ فِيْهِ ، وَيَزِيْدُهُ وُضُوْحًا مَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ مِنَ الْعَجَبِ الْعُجَابِ فِي ذَلِكَ، ثُمَّ صَارَ الْأَمْرُ إِلَى أَنَّ الافْتِرَاقَ فِي أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَفُرُوْعِهِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْفِقْهُ فِي الدِّيْنِ، وَصَارَ الْأَمْرُ بِالاجْتِمَاعِ لَا يَقُوْلُهُ إِلَّا زِنْدِيْقٌ أَوْ مَجْنُوْنٌ

    Landasan Kedua - Bersatu di atas agama dan larangan berserai berai

    Allah memerintahkan kita bersatu dalam menjalankan agama-Nya dan melarang bercerai-berai. Allah Ta’ala telah menjelaskan masalah tersebut dengan gamblang sehingga bisa dipahami oleh orang awam sekalipun. Dia melarang kita mengikuti orang-orang sebelum kita, yang bercerai-berai dan berselisih sehingga mereka binasa. Hal tersebut juga dijelaskan dalan As-Sunnah. Namun di kemudian hari, bercerai-berai dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya dianggap sebagai ilmu dan pengetahuan agama, sedangkan bersatu dalam menjalankan agama malah dianggap sebagi sesuatu yang hanya pantas dilontarkan oleh orang-orang zindiq atau gila.
    --------------------------
    • Dalil wajibnya bersatu, dan larangan bercerai-berai
    • Kaedah yang salah : bersatu atas hal-hal yang disepakati, dan memberi di dalam hal-hal yang diperselisihkan
    • Hadis tidak ada asalnya : ikhtilaafu ummatiy rahmah
    • Wajib mengembalikan perkara kepada al-quran dan sunnah jika terjadi ikhtilaf
    • Kaedah : Tidak ada pengingkaran dalam permasalah ijtihadiy
    اَلْأَصْلُ الثَّالِثُ أَنَّ مِنْ تَمَامِ الاجْتِمَاعِ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيْنَا وَلَوْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا ، فَبَيَّنَ النَبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ هَذَا بَيَانًا شَائِعًا ذَائِعًا بِكُلِّ وَجْهٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْبَيَانِ شَرْعًا وَقَدَرًا ، ثُمَّ صَارَ هَذَا الْأَصْلُ لَا يُعْرَفُ عِنْدَ أَكْثَرِ مَنْ يَدَّعِيْ الْعِلْمَ فَكَيْفَ الْعَمَلُ بِهْ؟

    Landasan Ketiga - Mendengar dan taat kepada para pemegang kekuasaan

    Sesungguhnya untuk lebih menyempurnakan landasan yang kedua, yaitu bersatu dalam menjalankan agama, diperlukan sikap mau mendengar dan taat kepada para pemegang pemerintahan, walaupun ia seorang budak Habsyi. Allah Ta’ala telah menjelaskan hal ini dengan penjelsan yang indah, lengkap dan sempurna, baik dari sisi syar’i maupun qadari (kauniyah/bukti), sehingga tidak membutuhkan penjelasan lagi. Kemudian perkara ini berubah menjadi satu hal yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang yang mengaku berilmu. Oleh karena itu, bagaimana mereka bisa mengamalkannya?
    --------------------------
    • Pentingnya imam dan jamaa'ah
    • Dalil wajibnya mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin

    اَلْأَصْلُ الرَّابِعُ بَيَانُ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ ، وَالْفِقْهِ وَالْفُقَهَاءِ ، وَبَيَانُ مَنْ تَشَبَّهَ بِهِمْ وَلَيْسَ مِنْهُمْ ، وَقَدْ بَيَّنَ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْأَصْلَ فِيْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ مِنْ قَوْلِهْ : {يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُواْ نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ ...}[سورة البقرة، الآية: 40] ، إِلَى قَوْلِهِ قَبْلَ ذِكْرِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : {يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ ...}[سورة البقرة، الآية: 47] الآية . وَيَزِيْدُهُ وُضُوْحًا مَا صَرَّحَتْ بِهِ السُّنَّةُ فِيْ هَذَا مِنَ الْكَلَامِ الْكَثِيْرِ الْبَيِّنِ الْوَاضِحِ لِلْعَامِّيِّ الْبَلِيْدِ ، ثُمَّ صَارَ هَذَا أَغْرَبَ الْأَشْيَاءِ ، وَصَارَ الْعِلْمُ وَالْفِقْهُ هُوَ الْبِدَعُ وَالضَّلَالَاتِ ، وَخِيَارُ مَا عِنْدَهُمْ لَبْسُ الْحَقِّ بِالْبَاطِلِ ، وَصَارَ الْعِلْمُ الذِيْ فَرَضَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْخَلْقِ وَمَدَحَهُ لَا يَتَفَوَّهُ بِهِ إِلَّا زِنْدِيْقٌ أَوْ مَجْنُوْنٌ ، وَصَارَ مَنْ أَنْكَرَهُ وَعَادَاهُ وَصَنَّفَ فِيْ التَّحْذِيْرِ مِنْهُ وَالنَّهْيِ عَنْهُ هُوَ الْفَقِيْهُ الْعَالِمُ

    Landasan Keempat - Penjelasan tentang ilmu dan ulama, fikih dan ahli fikih, dan orang-orang yang menyerupai mereka, namun bukan termasuk mereka

    Landasan keempat ini berisi penjelasan tentang ilmu dan ulama, fikih, dan ahli fikih serta orang yang berlagak seperti mereka namun tidak termasuk golongan mereka. Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan landasan ini dalam awal surat Al-baqarah dalam firmannya: "Hai Bani Israil, ingatlah kalian kepada nikmat-Ku yang Aku berikan kepada kalian dan penuhilah janji-Ku, niscaya Aku penuhi janji kalian.” (QS. al-Baqarah: 4) sampai firmannya: "Hai, Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang Aku berikan kepada kalian dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kalian atas seluruh manusia.” (QS. al-Baqarah: 47).
    Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menjelaskan hal ini sehingga menjadi semakin jelas dan gamblang bagi orang awam yang bodoh sekalipun. Akan tetapi, di kemudian hari perkara ini menjadi sesuatu yang paling asing; ilmu dan fikih dianggap sebagai bid’ah dan kesesatan. Pilihan terbaik menurut mereka adalah mengaburkan antara yang hak dan yang batil. Mereka menganggap ilmu yang wajib dipelajari manusia dan pujian bagi orang-orang yang berilmu hanyalah bualan orang-orang zindiq atau gila, sedangkan orang yang mengingkari dan memusuhi ilmu serta melarang orang-orang yang mempelajarinya dianggap sebagai orang yang fakih dan ‘alim.
    --------------------------
    • Ilmu yang dipuji dalam syariat ialah ilmu agama
    • Diantara penyalahgunaan pemakaian ilmu : menghubungkan al-quran dengan teori tertentu
    • Keutamaan ilmu

    اَلْأَصْلُ الْخَامِسُ بَيَانُ اللهِ سُبْحَانَهُ لِأَوْلِيَاءِ اللهِ وَتَفْرِيْقُهُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْمُتَشَبِّهِيْنَ بِهِمْ مِنْ أَعْدَاءِ اللهِ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَالْفُجَّارِ، وَيَكْفِيْ فِيْ هَذَا آيَةٌ فِيْ آلِ عُمْرَانَ وَهِيَ قَوْلُهُ: {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّهُ ...}[سورة آل عمران، الآية: 31] الآية ، وَآيَةٌ فِيْ الْمَائِدَةِ وَهِيَ قَوْلُهُ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِيْ اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ ...}[سورة المائدة، الآية: 54] الآية ، وَآيَةٌ فِيْ يُوْنُسَ وَهِيَ قَوْلُهُ: {أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ . الذِيْنَ آمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ}[سورة يونس ، الآيتان: 62-63] ، ثُمَّ صَارَ الْأَمْرُ عِنْدَ أَكْثَرِ مَنْ يَدَّعِيْ الْعِلْمَ وَأَنَّهُ مِنْ هُدَاةِ الْخَلْقِ وَحُفَّاظِ الشَّرْعِ ، إِلَى أَنَّ الْأَوْلِيَاءَ لَا بُدَّ فِيْهِمْ مِنْ تَرْكِ اتِّبَاعِ الرُّسُلْ وَمَنْ تَبِعَهُمْ فَلَيْسَ مِنْهُمْ . يَا رَبَّنَا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ

    Landasan Kelima - Penjelasan tentang siapa wali-wali Allah

    Landasan kelima ini berisi penjelasan tentang wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perbedaan mereka dengan musuh-musuh Allah Ta’ala dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang jahat yang menyerupai mereka. Dalam masalah ini cukuplah kita memperhatikan satu ayat dari surat Ali ‘Imran yakni firman-Nya: "Katakanlah, ’Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Dan satu ayat dalam surat al-Maidah yakni firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad dari agama Allah, maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (QS al-Maidah: 54). Serta satu ayat dalam surat Yunus yakni firman-Nya: "Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak akan merasa ketakutan dan tidak pula merasa bersedih hati (yakni) orang-orang yang beriman dan mereka tetap bertakwa.” (QS. Yunus: 62).
    Kemudian makna wali-wali Allah ini diubah oleh mereka yang mengaku memiliki ilmu dan sanggup memberi petunjuk kepada manusia serta menguasai ilmu-ilmu syari’at. Mereka menganggap bahwa wali-wali Allah Ta’ala adalah mereka yang meninggalkan teladan para rasul, sedangkan yang meneladani para rasul bukan wali-wali Allah Ta’ala. Selain itu, menurut mereka, para wali mereka yang meninggalkan jihad, keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Barangsiapa yang berjihad, beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala, maka dia bukan termasuk wali.
    Ya Allah, kami mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan (dari anggapan sesat mereka). Sesungguhnya Engkau maha mengabulkan doa.
    --------------------------
    • Ayat ujian
    • Empat sifat wali Allah yg merupakan tanda dan buah cinta kepada Allah
    • Dua sifat wali Allah : iman dan takwa

    اَلْأَصْلُ السَّادِسُ رَدُّ الشُّبْهَةِ(1) التِيْ وَضَعَهَا الشَّيْطَانُ فِيْ تَرْكِ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَاتِّبَاعِ الْآرَاءِ وَالْأَهْوَاءِ الْمُتَفَرِّقَةِ الْمُخْتَلِفَةِ ، وَهِيَ أَيْ الشُّبْهَةِ(2) التِيْ وَضَعَهَا الشَّيْطَانُ هِيَ أَنَّ الْقُرْآنَ وَالسُّنَّةَ لَا يَعْرِفُهُمَا إِلَّا الْمُجْتَهِدُ الْمُطْلَقُ، وَالْمُجْتَهِدُ هُوَ الْمَوْصُوْفُ بِكَذَا وَكَذَا أَوْصَافًا لَعَلَّهَا لَا تُوْجَدُ تَامَّةً فِيْ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ الْإِنْسَانُ كَذَلِكَ فَلْيُعْرِضْ عَنْهُمَا فَرْضًا حَتْمًا لَا شَكَّ وَلَا إِشْكَالَ فِيْهِ ، وَمَنْ طَلَبَ الْهُدَى مِنْهُمَا فَهُوَ إِمَّا زِنْدِيْقٌ ، وَإِمَّا مَجْنُوْنٌ لِأَجْلِ صُعُوْبَتِهِمَا . سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ، َوَالْأَمْرُ بِرَدِّ هَذِهِ الشُّبْهَةِ الْمَلْعُوْنَةِ مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى بَلَغَتْ إِلَى أَمْرِ الضَّرُوْرِيَّاتِ الْعَامَّةِ ، وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ، {لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ . إِنَّا جَعَلْنَا فِيْ أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الأَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ . وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ . وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ . إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيْمٍ}[سورة يس ، الآيات: 7-11] . آخِرُهُ ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

    Landasan Keenam - Bantahan terhadap syubhat yang dilontarkan oleh setan, yang berisi ajakan untuk meninggalkan al-Quran dan as-Sunnah

    Landasan keenam berisi bantahan terhadap syubhat yang dilontarkan oleh setan yang mengajak manusia meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah kemudian mengikuti pendapat hawa nafsu yang beragam. Syubhat yang mereka lontarkan adalah bahwa Al Qur’an dan As Sunnah tidak bisa dipahami kecuali oleh seoarng mujtahid, sedangkan mujtahid adalah seseorang yang mempunyai kriteria tertentu yang barangkali tidak akan dapat dimiliki oleh siapa pun, termasuk Abu Bakar dan Umar. Oleh karena itu, wajib bagi kita meninggalkan Al Qur'an dan As Sunnah, tidak ragu dan tidak samar lagi. Barangsiapa yang mencari petunjuk dari Al Qur’an dan As Sunnah, maka dia adalah zindiq atau gila, karena ketidakmungkinan memahami keduanya.
    Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya. Betapa banyak penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala , baik dengan perintah-perintah dan larangan maupun dengan hukum-hukum kauni dalam membantah syubhat yang tercela ini mencakup berbagai seginya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Allah Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, sehingga mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Allah Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Na. Berilah kabar gembira (kepada orang-orang seperti ini) ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yaasin: 7-11).
    Akhirnya, segala puji bagi Allah Rabbul’Alamin dan shalawat dan salam semoga terlimpah atas Nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya sampai hari kiamat.
    --------------------------
    • 3 macam isi al-quran
    • contoh ayat-ayat yg dapat difahami orang awam
    Maraji' :
    - Syarh Ushul Sittah Syaikh Shalih Fauzan
    - Syarh Ushul Sittah Syaikh 'Utsaimin