Ringkasan Fawaid Hadis Jagalah Allah! - Arbain Nawawi IXX

Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: aku pernah di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu beliau bersabda, “Hai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarimu satu kalimat, ‘Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka kamu akan mendapatinya di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah! Seandainya umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah Allah tulis untukmu, dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa menimpakan bahaya kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditulis atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan berkata, “Hadits hasan shahih.”

Dalam riwayat selain at-Tirmidzi, “Jagalah Allah, maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah saat lapang, maka Dia akan mengenalmu saat susah. Ketahuilah! Apa yang meleset bagimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan meleset. Ketahuilah! Sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, sesungguhnya kelapangan itu bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan.

Teks Hadis
عَنْ أَبِي العَبَّاسٍ عَبْدِ اللهِ بنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَومَاً فَقَالَ: «يَا غُلاَمُ إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحفَظك، احْفَظِ اللهَ تَجِدهُ تُجَاهَكَ، إِذَاَ سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَاَ اسْتَعَنتَ فَاسْتَعِن بِاللهِ، وَاعْلَم أَنَّ الأُمّة لو اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك، وإِن اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ» رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح 
وفي رواية غير الترمذي: «اِحفظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إلى اللهِ في الرَّخاءِ يَعرِفْكَ في الشّدةِ، وَاعْلَم أن مَا أَخطأكَ لَمْ يَكُن لِيُصيبكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُن لِيُخطِئكَ، وَاعْلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَربِ، وَأَنَّ مَعَ العُسرِ يُسراً»

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Maksud dari menjaga Allah, yaitu menjaga perkara-Nya; yang mencakup (SU) :
    1. Perkara qodariy, yaitu dengan sabar
    2. Perkara syar'iy, yaitu dengan membenarkan kabar, dan mengikuti khithaab.
  2. Penjagaan Allah mencakup dua perkara : penjagaan-Nya, dan pemeliharaan-Nya (pertolongan dan pengokohan). (SU)
  3. Ma'rifat hamba kepada Allah ada dua : pengakuan atas rububiyah-Nya, dan pengakuan atas uluhiyah-Nya. (SU)
  4. Ma'rifatullaah kepada hamba ada dua : umum (ilmu-Nya), dan khusus (pertolongan dan pengokohan)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Jalur periwayatan hadis ini (riwayat tirmidzi), hasan. (IRH)
  2. Hadis tentang larangan berangan-angan untuk bertemu musuh, muttafaq 'alaih. (IN)
  3. Tingkatan paling rendah dari menjaga Allah, ialah mentauhidkan-Nya, kemudian melaksanakan perintah wajib, dan menjauhi larangan yang haram (SAS)
  4. Penjagaan Allah memiliki dua tingkatan : penjagaan dunia, dan penjagaan agama. (SAS)
  5. Musibah dan bencana yang menimpa hamba, ialah karena mereka melalaikan penjagaan kepada Allah. (SAS, IN)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Bertakwa kepada Allah - Arbain Nawawi XVIII

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan maka ia akan menghapusnya, dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan berkata, “Hadits hasan,” dalam redaksi lain, “Hasan shahih.”

Teks Hadis
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بِنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» رواه الترمذي وقال: حديث حسن، وفي بعض النسخ: حسنٌ صحيح.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Hadis ini mengandung dua wasiat Nabi (SU)
    1. Hak Allah, yaitu takwa dan mengikuti kejelekan dengan kebaikan
    2. Hak hamba, yaitu bermuamalah kepada makhluk dengan akhlak yang baik
  2. Takwa yaitu pengambilan pelindung oleh seorang hamba, antara dia dengan yang dia takuti, dengan memenuhi tuntunan syariat. (SU)
  3. Mengikuti kejelekan dengan kebaikan memiliki dua tingkatan. (SAS, SU)
  4. Akhlak yang baik, yaitu badzlun nadaa wa kafful adza (SAS)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Makna al-khuluq, dalam syariat ada dua : umum (agama) dan khusus (muamalah dengan manusia). (SU)
  2. Takwa merupakan wasiat yang paling agung. (SAS)
  3. Pengertian takwa menurut Thalq bin Habiib (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Pembagian Ilmu Agama Islam

Ilmu agama islam (syar'iyyah) semuanya terpuji. Ilmu syar'iyyah terbagi menjadi empat :

  1. Ushul, seperti al Quran, Sunnah, ijma', dan atsar shahabat
    1. Furu', yaitu apa-apa yang difahami dari ushul tersebut, berupa makna-makna yang akal manusia perhatian terhadapnya, sehingga difahami dari lafadz yang diucapkan, makna selainnya.
      Seperti makna yang difahami dari sabda Rasulullah,
      لا يقضي القاضي وهو غضبان
      (tidaklah boleh seorang hakim memutuskan perkara, dalam keadaan dia sedang marah)
      bahwasanya hakim tidak boleh memutuskan perkara, dalam keadaan dia sedang lapar
    2. Muqoddimaat, yaitu ilmu yang dipergunakan sebagai alat, seperti ilmu nahwu dan bahasa arab; karena keduanya merupakan ilmu alat untuk memahami al Quran dan Sunnah
    3. Mutammimaat, seperti ilmu qira-aat, makhoorijul huruuf; ilmu tentang nama-nama perawi hadis, dan tingkat kredibilas mereka.
    Semua ilmu tersebut adalah ilmu syar'iyyah, dan kesemuanya merupakan perkara yang terpuji. (Mukhtashor Minhaajul Qoshidiin, 26)

    Marji' : Fadhlul 'Ilm, Syaikh Sa'id Ruslan.

    Ringkasan Fawaid Hadis Berbuat Baik dalam Segala Sesuatu - Arbain Nawawi XVII

    Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Maka, apabila kalian membunuh membunuhlah dengan cara yang baik, dan apabila kalian menyembelih menyembelilah dengan baik pula. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan mempermudah penyembelihan.” Diriwayatkan oleh Muslim.

    Teks Hadis
    عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ» رواه مسلم.

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Bisa dimaknai dengan kitaabah qorariyyah dan kitaabah syar'iyyah. (SU, SAS) Makna yang kedua lebih nampak (SAS)
    2. Perintah ihsan dalam segala sesuatu, seperti ibadah, mumalah dg manusia, hewan, jin, malaikat, dll (SAS)
    3. Ihsan berkaitan dengan ibadah, maka maksudnya ialah ihsan yang wajib. (SAS)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Adab-adab dalam membunuh. (SAS)
    2. Adab-adab dalam menyembelih hewan. (SAS, IN)


    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Ringkasan Fawaid Hadis Jangan Marah - Arbain Nawawi XVI

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku nasihat!” Beliau menjawab, “Jangan marah.” Dia mengulangi beberapa kali dan beliau menjawab, “Jangan marah.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

    Teks Hadis
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوصِنِيْ! قَال: «لاَ تَغْضَبْ» فَرَدَّدَ مِرَارًا وَقَالَ: «لاَ تَغْضَبْ» رواه البخاري.

    Ringkasan Fawaid Utama
    1. Termasuk salah satu dari 4 hadis yang mengumpulkan adab-adab yang baik. (IN)
    2. Larangan dari marah, mencakup dua perkara : (SU)
      1. dari mendatangi sebab-sebab kemarahan
      2. dari melampiaskan kemarahan
    3. Larangan di sini, hanya untuk marah karena dirinya sendiri. Sementara marah karena Allah, merupakan perkara yang diperintahkan, dan merupakan tanda-tanda keimanan. (SU)
    Ringkasan Fawaid Tambahan
    1. Keutamaan menjaga dari marah. (IN, IDQ)
    2. Cara mengobati marah (IN, SAS)
    3. Bermacam-macamnya wasiat Rasulullah, bisa karena dua kemungkinan. (SAS)
    4. Tentang taghoful. (SAS)


    Maraji' :
    - IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
    - SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

    Ringkasan Tafsir as Sa'diy - Surat at-Tiin

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

    Kandungan secara umum

    - surat ini menunjukkan keutamaan tempat kelahiran, dan pengutusan nabi Muhammad, yaitu mekah

    Ayat 1 - 4

    - keutamaan pohon tiin dan zaitun
    - keutamaan Syam, yang merupakan tempat kenabian Isa
    - keutamaan bukit sinai, yang merupakan tempat kenabian Musa
    - keutamaan mekah, yang merupakan tempat kenabian Muhammad
    - sasaran sumpah ialah ayat 4, yang maknanya yaitu "kami telah menciptakan manusia dengan penciptaan yang sempurna"

    Ayat 5 dan 6

    - makna "asfalas saafiliin", yaitu neraka yang paling bawah
    - pengecualian orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dari pengembalian manusia ke neraka
    - hubungan dengan ayat sebelumnya, yaitu bahwasanya kebanyakan manusia lalai dari mensyukuri nikmat
    - besarnya kenkmatan surga
    - surga ialah makhluk yang kekal

    Ayat 7 dan 8

    - pencipataan manusia dengan sempurna, merupakan dalil adanya hari pembalasan; yaitu pasti Allah menyediakan negeri yang kekal untuk mereka.
    - hukum Allah merupakan hukum yang paling baik

    Ringkasan Tafsir as Sa'diy - Surat asy-Syarh

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

    Kandungan secara umum

    - surat ini menunjukkan keutamaan nabi Muhammad

    Ayat 1 - 4

    - makna ayat 1, yaitu kami melapangkanmu terhadap syariat agama Islam, da’wah kepada Allah, bersifat dengan akhlak yang mulia, kecenderungan terhadap akhirat, dan mempermudahmu kepada kebaikan-kebaikan.
    - makna ayat 2, yaitu kami telah mengampuni dosamu
    - makna ayat 4, yaitu kami meninggikan kedudukanmu
    - contoh peninggian kedudukan Rasulullah :
    1. dalam penyebutan, misal syahadatain, adzan, dll
    2. dalam kedudukan beliau di hati umatnya

    Ayat 5 dan 6

    - setiap ada kesulitan dan kesusahan maka kemudahan selalu bersamanya dan mengiringinya.
    - satu kesulitan, tidak akan mengalahkan dua kemudahan

    Ayat 7 dan 8

    - perintah kepada Rasulullah, merupakan perintah kepada umatnya
    - makna ayat 7, yaitu apabila engkau telah selesai dari kesibukanmu dan tidak tersisa dalam hatimu suatu rintangan, maka bersungguh-sungguhlah dalam ibadah dan doa.
    - makna ayat 8, yaitu hanya kepada Allah saja, kuatkanlah harapanmu agar doa dan ibadahmu diterima.